وَّكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا كِذَّابًاۗ
Wa każżabū bi'āyātinā kiżżābā(n).
Mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami.
Dan di samping itu, mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami tentang tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan. Mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah cerita usang yang penuh kebohongan.
Setelah menerangkan azab neraka secara garis besar dalam ayat-ayat yang lalu, maka dalam ayat-ayat berikut ini Allah menyebutkan perincian terhadap dosa itu, yaitu terbagi atas dua bagian: pertama, mereka tidak takut kepada hari perhitungan karena mengingkari kedatangannya. Oleh karena itu, mereka tidak takut melakukan pelanggaran-pelanggaran itu sesuai dengan ajakan hawa nafsunya. Kedua, mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an tentang kewajiban mentauhidkan Allah sesuai dengan seruan para rasul serta mempercayai hari kebangkitan.
1. Mirṣādan مِرْصَادًا (an-Naba’/78: 21)
Mirṣād artinya tempat mengintai/menjebak. Terambil dari kata raṣada artinya “mengintai” atau “menjebak” sasaran. Kata itu adalah isim makān, kata yang menunjukkan tempat pekerjaan, atau pekerjaan itu sendiri sebagaimana disebutkan dalam Surah al-Fajr/89: 14: Inna rabbaka labil-mirṣād (Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi.)
2. Aḥqāban أَحْقَابًا (an-Naba’/78: 23)
Aḥqāb adalah bentuk jamak dari ḥuqub yang artinya masa-masa yang sangat panjang (sehingga tidak diketahui lamanya).

















































