Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 54 - Surat An-Naḥl (Lebah)
النّحل
Ayat 54 / 128 •  Surat 16 / 114 •  Halaman 272 •  Quarter Hizb 28 •  Juz 14 •  Manzil 3 • Makkiyah

ثُمَّ اِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنْكُمْ اِذَا فَرِيْقٌ مِّنْكُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُوْنَۙ

Ṡumma iżā kasyafaḍ-ḍurra ‘ankum iżā farīqum minkum birabbihim yusyrikūn(a).

Kemudian, apabila Dia telah menghilangkan kemudaratan darimu, tiba-tiba segolongan dari kamu mempersekutukan Tuhan mereka (dengan yang lain).

Makna Surat An-Nahl Ayat 54
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Kemudian apabila Dia Yang Mahakuasa dan Maha Esa telah menghilangkan bencana dan kesengsaraan itu dari kamu, ketaatanmu kepadaNya bukannya bertambah, malah sebagian kamu berpaling lalu mempersekutukan Tuhan Penolongmu dengan yang lain.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian Allah swt mengungkapkan bahwa apabila Allah mengabulkan permintaan mereka yaitu menghilangkan kesulitan yang dideritanya, mereka segera berbalik mempersekutukan tuhan-tuhan yang lain kepada Allah, dan menyembah patung-patung itu kembali. Mereka tidak mau lagi mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Demikianlah tipu daya mereka.

Allah swt berfirman:

وَاِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِى الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُوْنَ اِلَّآ اِيَّاهُۚ فَلَمَّا نَجّٰىكُمْ اِلَى الْبَرِّ اَعْرَضْتُمْۗ وَكَانَ الْاِنْسَانُ كَفُوْرًا ٦٧ (الاسراۤء)

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur). (al-Isrā’/17: 67)

Isi Kandungan Kosakata

Wāṣibā وَاصِبًا (an-Naḥl/16: 52)

Kata wāṣib adalah isim fā’il (active participle) dari waṣaba—yaṣibu—waṣb an yang berarti tetap. Darinya terambil kata waṣab yang berarti sakit terus-menerus. Dan darinya terambil kata wāṣibah yang berarti padang pasir yang sangat luas. Terdapat beberapa riwayat mengenai makna kata wāṣib yang disebut dalam ayat ini. Menurut Ibnu ‘Abbās, Mujāhid, ‘Ikrimah, Maimun bin Mahran, as-Suddi, Qatadah, dan lain-lainnya, kata ini berarti dā'im(tetap). Dalam riwayat lain, Ibnu ‘Abbās memaknainya wājib(wajib). Selain itu, Mujāhid juga memaknainya khāliṣ (murni), maksudnya seluruh penghuni langit dan bumi beribadah hanya kepada Allah. Namun makna yang lebih kuat adalah “tetap”, karena dalam ayat lain Allah berfirman, “Dan bagi mereka siksaan yang kekal.” (aṣ-Ṣāffāt/37: 9)

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto