Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 55 - Surat An-Naḥl (Lebah)
النّحل
Ayat 55 / 128 •  Surat 16 / 114 •  Halaman 273 •  Quarter Hizb 28 •  Juz 14 •  Manzil 3 • Makkiyah

لِيَكْفُرُوْا بِمَآ اٰتَيْنٰهُمْۗ فَتَمَتَّعُوْاۗ فَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَ

Liyakfurū bimā ātaināhum, fa tamatta‘ū fa saufa ta‘lamūn(a).

Biarkan mereka (orang-orang musyrik) mengingkari apa yang telah Kami anugerahkan kepada mereka. Bersenang-senanglah, kelak kamu akan mengetahui (akibat buruk perbuatanmu).

Makna Surat An-Nahl Ayat 55
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Begitu banyak nikmat yang Kami anugerahkan, tetapi biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Akan Kami katakan kepada mereka, “Bersenang-senanglah kamu dengan nikmat-nikmat itu dan berhala-berhala yang kamu sembah. Ketahuilah, kelak kamu pasti akan mengetahui akibat dari perbuatanmu.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menyatakan bahwa Allah membiarkan orang-orang kafir dan musyrik mengingkari nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Allah juga membiarkan mereka mengingkari-Nya sebagai Zat yang Mahakuasa menghilangkan bahaya yang menimpa mereka, hingga meng-ingkari Allah yang Mahaperkasa melepaskan diri mereka dari bahaya itu.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan bahwa mereka dibiarkan menikmati kehidupan dunia dan memuaskan hawa nafsu mereka sampai tiba saatnya ajal merenggut mereka. Sesudah itu, mereka pasti akan kembali kepada Allah. Di saat itulah mereka mengetahui dengan seyakin-yakinnya akibat keingkaran dan pembangkangan mereka. Mereka akan menyesali perbuatan mereka dengan penyesalan yang tiada berguna.

Isi Kandungan Kosakata

Wāṣibā وَاصِبًا (an-Naḥl/16: 52)

Kata wāṣib adalah isim fā’il (active participle) dari waṣaba—yaṣibu—waṣb an yang berarti tetap. Darinya terambil kata waṣab yang berarti sakit terus-menerus. Dan darinya terambil kata wāṣibah yang berarti padang pasir yang sangat luas. Terdapat beberapa riwayat mengenai makna kata wāṣib yang disebut dalam ayat ini. Menurut Ibnu ‘Abbās, Mujāhid, ‘Ikrimah, Maimun bin Mahran, as-Suddi, Qatadah, dan lain-lainnya, kata ini berarti dā'im(tetap). Dalam riwayat lain, Ibnu ‘Abbās memaknainya wājib(wajib). Selain itu, Mujāhid juga memaknainya khāliṣ (murni), maksudnya seluruh penghuni langit dan bumi beribadah hanya kepada Allah. Namun makna yang lebih kuat adalah “tetap”, karena dalam ayat lain Allah berfirman, “Dan bagi mereka siksaan yang kekal.” (aṣ-Ṣāffāt/37: 9)

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto