Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 56 - Surat An-Naḥl (Lebah)
النّحل
Ayat 56 / 128 •  Surat 16 / 114 •  Halaman 273 •  Quarter Hizb 28 •  Juz 14 •  Manzil 3 • Makkiyah

وَيَجْعَلُوْنَ لِمَا لَا يَعْلَمُوْنَ نَصِيْبًا مِّمَّا رَزَقْنٰهُمْۗ تَاللّٰهِ لَتُسْـَٔلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَفْتَرُوْنَ

Wa yaj‘alūna limā lā ya‘lamūna naṣībam mimmā razaqnāhum, tallāhi latus'alunna ‘ammā kuntum taftarūn(a).

Mereka menyediakan bagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka untuk (berhala-berhala) yang tidak mereka ketahui (kekuasaannya). Demi Allah, kamu pasti akan ditanyai tentang apa yang kamu ada-adakan.

Makna Surat An-Nahl Ayat 56
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan tidak saja mengingkari nikmat dan keesaan Allah, mereka (kaum musyrik) menyediakan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka sebagai persembahan untuk berhala-berhala yang mereka tidak mengetahui kekuasaannya. Demi Allah Yang Mahakuasa, kamu, wahai orang musyrik, pasti akan ditanyai dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah tentang apa yang telah kamu ada-adakan.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah swt menjelaskan bahwa di antara perbuatan orang-orang musyrik ialah menyediakan sesaji kepada berhala-berhala mereka, padahal sesaji-sesaji yang disediakan itu merupakan nikmat Allah yang diberikan kepada mereka. Berbagai sesaji yang diberikan kepada berhala-berhala itu merupakan hasil pertanian atau binatang-binatang ternak mereka. Mereka berbuat demikian dengan maksud agar berhala-berhala itu dapat menolong mereka. Padahal mereka tidak mengetahui sedikit pun bahwa berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan menghindarkan mereka dari bahaya yang akan menimpa. Perbuatan mereka ini adalah perbuatan syirik, yaitu mempertuhankan yang lain di samping Allah.

Allah swt berfirman:

وَجَعَلُ وْا لِلّٰهِ مِمَّا ذَرَاَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْاَنْعَامِ نَصِيْبًا فَقَالُوْا هٰذَا لِلّٰهِ بِزَعْمِهِمْ وَهٰذَا لِشُرَكَاۤىِٕن َاۚ فَمَا كَانَ لِشُرَكَاۤىِٕه ِمْ فَلَا يَصِلُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَمَا كَانَ لِلّٰهِ فَهُوَ يَصِلُ اِلٰى شُرَكَاۤىِٕهِم ْۗ سَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ ١٣٦ (الانعام)

Dan mereka menyediakan sebagian hasil tanaman dan hewan (bagian) untuk Allah sambil berkata menurut persangkaan mereka, ”Ini untuk Allah dan yang ini untuk berhala-berhala kami.” Bagian yang untuk berhala-berhala mereka tidak akan sampai kepada Allah, dan bagian yang untuk Allah akan sampai kepada berhala-berhala mereka. Sangat buruk ketetapan mereka itu. (al-An‘ām/6: 136)

Kemudian Allah mengancam mereka dengan ancaman yang keras. Allah bersumpah dengan nama-Nya, bahwa Ia benar-benar akan meminta pertanggungjawaban mereka atas perbuatan mereka mengada-adakan tuhan selain Allah. Kemudian mereka akan disiksa sesuai dengan keingkaran dan perbuatan mereka itu.

Allah swt berfirman:

فَوَرَبّ ِكَ لَنَسْـَٔلَنَّ هُمْ اَجْمَعِيْنَۙ ٩٢ (الحجر)

Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, (al-ḥijr/15: 92)

Di akhir ayat, Allah swt meminta pertanggungjawaban mereka terhadap apa yang mereka ada-adakan, memberikan pengertian bahwa Allah mencela mereka terhadap perkataan ataupun perbuatan yang mereka ada-adakan itu.

Isi Kandungan Kosakata

1. Yatawārā يَتَوَارَى (an-Naḥl/16: 59)

Kata yatawāra adalah fi‘il muḍāri‘ dari kata tawāra-yatawāra-tawāriyan . Terambil dari kata warat al-ibilu yang berarti unta gemuk dan tidak terlihat tulangnya akibat banyak lemak. Darinya terambil kata wāra yang berarti menguburkan, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala, “Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepada-nya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya.” (al-Mā'idah/5: 31). Kata tersebut juga berarti menutup, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala, “Pakaian untuk menutupi auratmu…” (al-A‘rāf/7: 26). Kata tawāra-yatawāra-tawāriyan yang disebutkan dalam ayat ini berarti mundur ke belakang sehingga tidak terlihat oleh banyak orang (bersembunyi).

2. Yadussuhū يَدُسُّهُ (an-Naḥl/16: 59)

Kata yadussu adalah fi’il muḍāri‘ dari kata dassa. Secara harfiah ia berarti “menyisipkan ke dalam tanah”. Sebuah ungkapan menyebutkan: الْعِرْقُ دَسَّاسٌ. Secara harfiah ungkapan ini berarti “akar itu menyisip-nyisip ke dalam tanah”, sedangkan makna ungkapan ini adalah bahwa akhlak ayah itu menurun kepada anak. Dalam ayat lain, kata ini berarti mengotori, sebagaimana dalam firman Allah, “Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams/91: 10). Menurut ulama tafsir, makna kata yadussu yang disebut dalam ayat ini adalah mengubur hidup-hidup.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto