اِنَّ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِۙ لَا يَهْدِيْهِمُ اللّٰهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Innal-lażīna lā yu'minūna bi'āyātillāh(i), lā yahdīhimullāhu wa lahum ‘ażābun alīm(un).
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al-Qur’an) tidak akan Allah beri petunjuk dan bagi mereka ada azab yang sangat pedih.
Usai menceritakan keingkaran kaum kafir atas ayat-ayat yang Rasulullah sampaikan, Allah lalu menyebut azab bagi mereka, “Sesungguhnya orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, yaitu Al-Qur’an dan tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta, Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka menuju keimanan dan mengamalkan tuntunan-Nya, padahal Dia telah menganugerahi mereka potensi iman dan menjelaskan kepada mereka ayat-ayat itu melalui rasul-Nya. Dan akibat keingkaran mereka itumereka akan mendapat azab yang pedih jika tidak bertobat.
Dalam ayat ini Allah swt menegaskan bahwa tanpa iman kepada Allah swt dan Al-Qur’an sebagai wahyu-Nya, seseorang tidak akan mendapat petunjuk kepada kebenaran hakiki yang melepaskan dia dari azab. Orang-orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu buatan manusia atau dongeng-dongeng zaman kuno, tentu jauh dari hidayah Allah, dan tidak akan dapat menemukan jalan kebenaran.
Al-Qur’an yang seharusnya menjadi penuntun ditinggalkannya, sehingga mereka menjadi sesat. Oleh karena itu, mereka mudah terjerumus ke dalam kejahatan sehingga jiwanya menjadi kotor dan tertutup oleh noda-noda dosa. Mereka itu pasti sengsara dan tersiksa di dunia dan di akhirat.
Lā Jarama لَا جَرَمَ (an-Naḥl/16: 109)
Ungkapan ini terdiri dari dua kata, yaitu lā dan jarama. Secara bahasa, lā berarti tidak, dan jarama maknanya pemutusan atau kepastian. Dengan demikian, menurut etimologi lā jarama maknanya tidak ada kepastian. Namun demikian, secara terminologis, ada yang berpendapat bahwa lā jarama pada ayat ini mengandung makna “aku bersumpah”, dan bukan “aku tidak bersumpah”, sehingga kata lā di sini tidak diungkap dalam frase tersebut. Ungkapan demikian seperti frase sumpah lā uqsimu pada Surah al-Balad, yang diartikan sebagai aku bersumpah, dan bukan aku tidak bersumpah. Selain itu ada pula yang berpendapat bahwa lā jarama berarti pasti. Dengan makna ini, seakan-akan apa yang diucapkan akan berlanjut terus, sehingga menjadi kenyataan, dan tidak ada yang menghalangi atau memutus perjalanannya menuju kenyataan.
















































