اِنَّمَا يَفْتَرِى الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ
Innamā yaftaril-każibal-lażīna lā yu'minūna bi'āyātillāh(i), ulā'ika humul-kāżibūn(a).
Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah. Mereka itulah para pembohong.
Selain menuduh Nabi Muhammad sebagai pembohong, orang kafir juga meyakini ayat-ayat yang beliau sampaikan adalah hasil karyanya sendiri, bukan dari Allah. Menepis tuduhan itu Allah menegaskan sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak mau beriman kepada ayat-ayat Allah, baik yang termaktub dalam Al-Qur’an maupun terbentang di alam semesta, dan mereka itulah pembohong sejati, bukan Nabi Muhammad.
Ayat ini menyanggah tuduhan orang-orang kafir yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah ciptaan Muhammad. Sesungguhnya yang membuat-buat kebohongan itu bukan Rasul saw, tetapi orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat kauniyah yang menjelaskan keesaan dan kekuasaan Allah yang terdapat pada alam semesta ini, maupun ayat-ayat Qur’aniyah yang memberi petunjuk dalam kehidupan ini. Jadi sebenarnya mereka yang menjadi pendusta, bukan Rasul saw karena beliau adalah orang yang paling jujur, sempurna ilmu dan amal perbuatannya, kuat keyakinan, dan paling terpercaya. Karena kejujuran dan kebersihan jiwanya, ia diberi nama al-Amīn (orang yang jujur).
Lā Jarama لَا جَرَمَ (an-Naḥl/16: 109)
Ungkapan ini terdiri dari dua kata, yaitu lā dan jarama. Secara bahasa, lā berarti tidak, dan jarama maknanya pemutusan atau kepastian. Dengan demikian, menurut etimologi lā jarama maknanya tidak ada kepastian. Namun demikian, secara terminologis, ada yang berpendapat bahwa lā jarama pada ayat ini mengandung makna “aku bersumpah”, dan bukan “aku tidak bersumpah”, sehingga kata lā di sini tidak diungkap dalam frase tersebut. Ungkapan demikian seperti frase sumpah lā uqsimu pada Surah al-Balad, yang diartikan sebagai aku bersumpah, dan bukan aku tidak bersumpah. Selain itu ada pula yang berpendapat bahwa lā jarama berarti pasti. Dengan makna ini, seakan-akan apa yang diucapkan akan berlanjut terus, sehingga menjadi kenyataan, dan tidak ada yang menghalangi atau memutus perjalanannya menuju kenyataan.













































