اَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْاُنْثٰى
Alakumuż-żakaru wa lahul-unṡā.
Apakah (pantas) bagi kamu (anak) laki-laki dan bagi-Nya (anak) perempuan?
Apakah pantas bila kamu memilih untuk kamu sendiri anak yang laki-laki dan untuk-Nya kamu memilihkan anak yang perempuan, sedangkan kamu sendiri benci dan marah bila mendapatkan anak perempuan?
Dalam ayat ini Allah menolak anggapan mereka yang menyatakan bahwa Dia mempunyai anak perempuan dan mereka mempunyai anak laki-laki yang disebabkan oleh persangkaan mereka bahwa perempuan itu lemah dan mempunyai kekurangan sedangkan laki-laki itu sempurna. Ini mengungkapkan anggapan mereka, bahwa Allah mempunyai kekurangan, sedangkan mereka yang memiliki kekurangan itu menganggap diri mereka sempurna.
1. Qismatun Ḍīzā قِسْمَةٌ ضِيْزَى (an-Najm/53: 22)
Qismatun artinya “pembagian”, kata itu adalah kata benda (ism) dari qasama ‘membagi’. Ḍīzā adalah bentuk kata sifat mu’annaṡ (feminin) dari kata kerja ḍāza artinya ‘mengurangi’. Asalnya ḍuiza, karena dammah berat bagi yā’, maka dammah ditukar kasrah. Maksudnya adalah pembagian yang tidak adil. Yaitu mengenai kepercayaan kaum musyrikin Mekah bahwa malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah. Dengan demikian mereka hendak merendahkan Allah karena anak perempuan itu bagi mereka hina. Itu adalah pembagian yang tidak adil, karena bagi mereka anak laki-laki dan anak perempuan mereka peruntukkan bagi Allah.
2. Tamannā تَمَنَّى (an-Najm/53: 24)
Tamannā “mencita-citakan”, “mendambakan”. Terambil dari kata manā artinya “menentukan”. Tamannā berarti menentukan sendiri apa yang akan diperoleh pada masa yang akan datang yang tidak mungkin terjadi. Dari kata itu terbentuk kata umniyah artinya “angan-angan”, jamaknya amāniyya, yang banyak terdapat dalam Al-Qur’an. Kata maniyya sperma juga ada kaitannya dengan kata itu, karena sperma itu diharapkan darinya membuahkan anak. Orang Arab punya berhala namanya manāt, yaitu yang mereka angan-angankan dapat memenuhi permintaan mereka.















































