وَالْمُؤْتَفِكَةَ اَهْوٰىۙ
Wal-mu'tafikata ahwā.
Dia juga menjungkirbalikkan negeri kaum Lut,
Itulah kisah umat yang durhaka kepada nabinya, dan selain mereka hukuman Allah yang berupa prahara angin telah meruntuhkan negeri kaum Nabi Lut yang ingkar dan menolak ajarannya,
Allah telah memusnahkan kaum Lut dengan menjungkir-balikkan negeri mereka dan menurunkan azab kepada mereka berupa hujan batu yang terbakar, sambil menghujani mereka dengan batu-batu dari tanah yang terbakar, bertubi-tubi. Dalam ayat lain yang sama maksudnya, Allah berfirman:
وَاَمْطَ رْنَا عَلَيْهِمْ مَّطَرًاۚ فَسَاۤءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِيْن َ ١٧٣
Dan Kami hujani mereka (dengan hujan batu), maka betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. (asy-Syu‘arā'/26: 173)
Inilah yang dikehendaki oleh Allah dengan firman-Nya, “Allah menimpakan atas negeri mereka azab yang menimpanya.” Pengungkapan keadaan dengan kata-kata tersebut menunjukkan kehebatan azab yang menimpa mereka karena Allah membalikkan-Nya, yang atas menjadi bawah dan bawah menjadi atas.
Keterangan yang jelas dan nyata itu tak dapat meyakinkan mereka, bahkan membikin mereka ragu-ragu, mereka menertawakannya, walaupun Nabi Muhammad saw terus-menerus memperingatkan mereka. Sebenarnya mereka harus menangis atas kesalahan dan kelengahan mereka dan sembah sujud kepada Allah.
1. Akdā اَكْدَي (an-Najm/53: 34)
Akdā berasal dari kata kerja kadā-al-kudyatu artinya keras membatu. Akdā berarti kikir yang luar biasa bagaikan batu yang tidak ada yang menetes darinya.
2. Al-Mu'tafikah الْمُؤْتَفِكَة (an-Najm/53: 53)
Al-Mu'tafikah adalah kata jadian dari i'tafaka artinya membalikkan dari benar menjadi salah, dari baik menjadi buruk. Kata dasarnya al-ifku yaitu sesuatu yang berubah keadaannya dari baik menjadi buruk. Kata ini digunakan untuk negeri kaum Lut yang dijungkirbalikkan oleh Allah karena dosa homoseksual mereka.














































