Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 17 - Surat An-Najm (Bintang)
النّجم
Ayat 17 / 62 •  Surat 53 / 114 •  Halaman 526 •  Quarter Hizb 53.25 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى

Mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā.

Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya).

Makna Surat An-Najm Ayat 17
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Karena keindahan yang dilihat oleh Nabi Muhammad itu, penglihatannya tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian dalam ayat ini Allah menjelaskan lagi bahwa tatkala Rasulullah saw melihat Jibril di sana, ia tidak berpaling dari memandang semua keajaiban Sidratul Muntaha sesuai dengan apa yang telah diizinkan Allah kepadanya untuk dilihat. Dan ia tidak pula melampaui batas kecuali apa yang telah diizinkan kepadanya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Żū Mirrah ذُوْ مِرَّة (an-Najm/53: 6)

Kata żū mirrah merupakan sifat dari malaikat Jibril yang sebelumnya telah disebutkan ‘allamahū syadīdul-quwā (yang telah diajarkan oleh Jibril yang sangat kuat) pada ayat sebelumnya. Yang dimaksud syadīdul-quwā di situ adalah malaikat Jibril, yang selanjutnya disifati pula dengan żū mirrah yang dalam banyak kitab tafsir diberi pengertian żū quwwah (yang mempunyai kekuatan). Jibril itu memang kuat, kekuatannya ada pada dirinya. Jibril mempunyai kekuatan yang luar biasa. Bukti kekuatannya antara lain, seperti diterangkan para Mufasir, ia pernah mencopot dan mengangkat tanah kawasan kaum Nabi Lut, dipanggulnya di atas sayapnya dan kemudian membalikkannya menimpa kaum Lut, dan juga meneriakkan suaranya yang sangat dahsyat kepada kaum Ṡamūd, sehingga mereka musnah, teriakan dahsyat sebagai azab kepada kaum Ṡamūd.

2. Sidratul-Munta hā سِدْرَةُ ﺍلْمُنْتَهَى (an-Najm/53: 14)

Sidratul-Muntahā merupakan terminologi yang sangat dikenal di kalangan kaum Muslimin, terutama dalam hubungan mi‘rāj (naik) Nabi Muhammad saw ke langit beberapa waktu sebelum berhijrah ke Medinah al-Munawwarah. Di tanah Arab, pohon sidrah ialah pohon yang di bawahnya digunakan oleh orang-orang untuk berteduh dan beristirahat, atau yang di bawahnya dijadikan tempat beristirahat orang banyak. Kata sidrah dicantumkan pula di tempat lain dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan pohon di Surga (al-Wāqi‘ah/ 56:28). Adapun arti kata sidrah dalam ayat ini, ar-Rāgib al-Asfahānī menerangkan, antara lain maksudnya adalah tempat di mana Nabi Muhammad saw terpilih untuk menerima karunia dan kenikmatan Tuhan yang besar. Kata sidrah yang disifati al-muntahā menunjukkan bahwa tempat itu tidak dapat dijangkau oleh pengetahuan manusia. Seperti dijelaskan oleh az-Zamakhsyarī dalam Al-Kasysyāf-nya, “Pengetahuan malaikat dan lain-lainnya berhenti di tempat ini, dan tak ada satu pun yang tahu apakah yang ada di tempat itu.” Oleh karena itu, arti yang tersimpul dalam istilah itu ialah, bahwa ilmu Nabi Muhammad saw tentang perkara ketuhanan adalah yang paling tinggi yang dapat dicapai oleh manusia. Menurut sebagian Mufasir, kata sidratul-muntahā mempunyai arti yang sama seperti kata ‘illiyyūn dalam Surah al-Muṭaffifīn/83:19.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto