Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 64 - Surat An-Naml (Semut)
النّمل
Ayat 64 / 93 •  Surat 27 / 114 •  Halaman 383 •  Quarter Hizb 39 •  Juz 20 •  Manzil 5 • Makkiyah

اَمَّنْ يَّبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗ وَمَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗقُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Am may yabda'ul-khalqa ṡumma yu‘īduhū wa may yarzuqukum minas-samā'i wal-arḍ(i), a'ilāhum ma‘allāh(i), qul hātū burhānakum in kuntum ṣādiqīn(a).

Apakah (yang kamu sekutukan itu lebih baik ataukah) Zat yang menciptakan (makhluk) dari permulaannya kemudian mengulanginya (lagi) dan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Katakanlah, “Kemukakanlah bukti kebenaranmu jika kamu orang-orang benar.”

Makna Surat An-Naml Ayat 64
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Selain bukti-bukti yang terhampar di alam raya, di langit dan di bumi, tanyakan pula kepada mereka tentang awal dan akhir perjalanan hidup manusia serta aneka anugerah-Nya. Bukankah Dia yang memulai penciptaan semua makhluk, termasuk manusia, kemudian setelah manusia hidup di pentas bumi lalu mati, Dia mengulanginya lagi dengan menghidupkannya kembali setelah hancur dan binasa? Dan bukankah Dia yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dengan menurunkan hujan dan dari bumi dengan menumbuhkan tanaman? Apakah di samping Allah ada tuhan lain yang melakukan itu? Pasti tidak ada. Kalaupun mereka berkata ada, maka Katakanlah, Nabi Muhammad, “Jika ada Tuhan selain Allah maka kemukakanlah alasan-alasan yang menjadi bukti pendukung kebenaranmu, jika kamu menganggap dirimu orang yang berkata benar. Sekali-kali kamu tidak akan dapat mendatangkan itu.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah mengemukakan pertanyaan yang kelima dalam rangka memperlihatkan keadilan dan keesaan-Nya, yaitu siapakah yang menciptakan manusia dari awal sampai terciptanya bentuk yang seindah-indahnya, kemudian mematikannya bila Dia kehendaki, lalu menghidupkannya kembali pada hari Kiamat setelah menjadi tulang-belulang? Siapakah yang memberikan rezeki kepada manusia dari langit dan bumi dengan menurunkan air hujan dari langit yang menyebabkan kesuburan tanah yang menumbuhkan tanam-tanaman yang buahnya bisa dimakan oleh manusia dan binatang ternak? Apakah di samping Allah ada lagi tuhan yang lain?

Setelah mengemukakan lima pertanyaan di atas, yang seharusnya dipikirkan secara mendalam hingga menjadi bukti tentang kekuasaan dan keesaan-Nya, Allah menyuruh Nabi Muhammad supaya menanyakan kepada orang-orang penyembah berhala itu alasan dan bukti-bukti kebenaran sesembahan mereka, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu memang orang yang beriman.”

Demikian cara Al-Qur’an mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya harus dicari sendiri oleh manusia. Pertama, air yang turun ke bumi sehingga timbul kehidupan berupa kebun-kebun yang indah. Kedua, menjadikan bumi sebagai tempat tinggal yang menyenangkan dengan adanya sungai, gunung, danau, dan laut. Ketiga, manusia dijadikan khalifah di bumi, yaitu sebagai penguasa dan wakil Tuhan untuk melaksanakan hukum-Nya di muka bumi. Manusia sebagai makhluk yang paling tinggi yang diciptakan Allah melakukan perjalanan di darat maupun pelayaran di laut untuk menyebarkan dakwah hukum-hukum Tuhan. Yang terakhir yaitu meskipun manusia jika sampai pada waktunya meninggal dunia dan dikubur di bumi sehingga jasadnya hancur dan menjadi tanah, tetapi pada hari Kiamat ia dibangkitkan kembali. Demikianlah kekuasaan Allah.

Isi Kandungan Kosakata

1. Qarāran قَرَارًا (an-Naml /27: 61)

Secara etimologis, qarāran semakna dengan kata maskan yang berarti tempat tinggal atau kediaman. Dalam konteks ayat di atas, Allah menegaskan bahwa diri-Nya yang telah menjadikan bumi sebagai qarāran atau tempat tinggal/kediaman yang nyaman bagi manusia, termasuk bagi orang-orang yang mengingkari keberadaan-Nya. Dengan penegasan ini, diharapkan orang-orang yang mengingkari keberadaan-Nya akan insaf dan kemudian beriman kepada-Nya.

2. Khulafā’ al-arḍ خُلَفَاءَ الاَرْضِ (an-Naml/27: 62)

Khulafā’ al-arḍ terdiri dari dua kata, khulafā’ (jamak dari khalīfah) yang bermakna wakil-wakil dan al-arḍ yang berarti bumi. Dengan demikian, khulafā’ al-arḍ bermakna wakil-wakil di bumi. Sedang maksud manusia dijadikan sebagai khulafā’ al-arḍ dalam konteks ayat di atas, adalah bahwa manusia dijadikan berkuasa untuk mengatur dan mengolah bumi. Dan yang menjadikan manusia sebagai khulafā’ al-arḍ tak lain adalah Allah. Karena itu, setiap orang harus selalu ingat pada-Nya. Namun ternyata, seperti diisyaratkan oleh ayat di atas, hanya sedikit yang mengingat-Nya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto