اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ ۩
Allāhu lā ilāha illā huwa rabbul-‘arsyil-‘aẓīm(i).
Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai ʻArasy yang agung.”
Dialah Allah, tidak ada tuhan yang wajib dan patut disembah melainkan Dia. Dialah Tuhan yang mempunyai ‘Arsy dan bersemayam di atas singgasana-Nya yang agung.”
Selanjutnya hud-hud mengatakan bahwa sebenarnya Allah-lah yang berhak disembah. Dialah yang mempunyai ‘Arasy yang besar, mempunyai kekuasaan yang mutlak, dan tak ada sesuatu pun yang dapat mengatasinya.
Nabi Sulaiman heran dan tercengang mendengar keterangan dan tanggapan burung hud-hud itu. Kenapa burung itu sanggup dalam waktu yang singkat mengetahui keadaan negeri Saba’, tata cara pemerintahannya, kekayaan dan pengaruhnya, dan mengetahui pula agama yang mereka anut. Burung hud-hud juga tahu dan meyakini kekuasaan dan keesaan Allah, mengakui bahwa tuhan yang berhak disembah hanyalah Allah semata, tidak ada yang lain. Ia juga mengetahui bahwa menyembah matahari adalah kepercayaan yang batil, dan mengetahui pula bentuk perbuatan yang baik dan tidak baik menurut agama. Dari ayat ini dipahami bahwa berdasar pengetahuan dan pengalamannya di negeri Saba’, seakan-akan burung hud-hud itu menganjurkan kepada Nabi Sulaiman agar beliau segera menyeru Ratu Balqis dan rakyatnya untuk beriman kepada Allah dan mengikuti seruan Nabi Sulaiman.
1. ‘Arsyun ‘Aẓīm عَرْشٌ عَظِيْمٌ (an-Naml/27: 23)
‘Arsy pada dasarnya berarti sesuatu yang memiliki atap. Bentuk jamaknya adalah ‘urūsy. ‘Arsy juga diartikan dengan penutup pada kendaraan unta yang digunakan untuk menghalangi dari sinar matahari dan hujan. Tempat raja disebut juga dengan ‘arsy karena memiliki penutup dan berkedudukan lebih tinggi. Kata ‘arsy memiliki pengertian kekuatan, kekuasaan, dan kerajaan. Allah memiliki ‘arsy, tetapi hakikat ‘arsy tersebut hanya Allah yang tahu. Sebagian ulama mengartikan ‘arsy Allah dengan menunjukkan ketinggian dan kekuasaan Allah. Dalam ayat ini dijelaskan tentang keterangan burung hud-hud yang datang kepada Nabi Sulaiman dan mengabarkan bahwa ia melihat sebuah negeri yang diperintah oleh seorang ratu. Dia memiliki ‘singgasana’ (‘arsy) yang besar dan indah. Kebesaran singgasananya ini menunjukkan kerajaan yang dipimpinnya merupakan kerajaan yang besar dan makmur, yang ia senantiasa bersikap bijaksana terhadap rakyatnya.
2. Al-Khab’ الْخَبْء (an-Naml/27: 25)
Al-Khab’ merupakan bentuk ism al-maṣdar (kata benda) dari fi’il māḍī (kata kerja lampau) khaba’a yang berarti menyembunyikan. Dengan demikian, al-khab’ berarti ‘sesuatu yang tersembunyi’ atau ‘sesuatu yang terpendam.’ Dalam konteks ayat di atas, yang dimaksud al-khab’ adalah sesuatu yang tersembunyi atau terpendam, baik di langit maupun di bumi, yang berupa hujan di langit, tanaman-tanaman dan logam di bumi, dan sebagainya. Semua itu hanya Allah yang mampu menurunkan dan mengeluarkannya.



























