اَلَّا يَسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَ
Allā yasjudū lillāhil-lażī yukhrijul-khab'a fis-samāwāti wal-arḍi wa ya‘lamu mā tukhfūna wa mā tu‘linūn(a).
Mereka (juga) tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi549) dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan.
Mereka juga tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit seperti air hujan dan di bumi seperi menumbuhkan tanam-tanaman, dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dalam hatimu dan yang kamu nyatakan dengan perkataanmu.
Setan telah dapat memalingkan mereka dari keyakinan akan kekuasaan dan keesaan Allah, sehingga mereka tidak menyembah kepada-Nya. Mereka tidak lagi mempercayai bahwa Allah mengetahui segala yang tersembunyi di langit dan di bumi, Dialah Allah yang menciptakan segala sesuatu, seperti tumbuh-tumbuhan dan barang-barang logam yang tersembunyi di dalam bumi dan di dalam laut.
1. ‘Arsyun ‘Aẓīm عَرْشٌ عَظِيْمٌ (an-Naml/27: 23)
‘Arsy pada dasarnya berarti sesuatu yang memiliki atap. Bentuk jamaknya adalah ‘urūsy. ‘Arsy juga diartikan dengan penutup pada kendaraan unta yang digunakan untuk menghalangi dari sinar matahari dan hujan. Tempat raja disebut juga dengan ‘arsy karena memiliki penutup dan berkedudukan lebih tinggi. Kata ‘arsy memiliki pengertian kekuatan, kekuasaan, dan kerajaan. Allah memiliki ‘arsy, tetapi hakikat ‘arsy tersebut hanya Allah yang tahu. Sebagian ulama mengartikan ‘arsy Allah dengan menunjukkan ketinggian dan kekuasaan Allah. Dalam ayat ini dijelaskan tentang keterangan burung hud-hud yang datang kepada Nabi Sulaiman dan mengabarkan bahwa ia melihat sebuah negeri yang diperintah oleh seorang ratu. Dia memiliki ‘singgasana’ (‘arsy) yang besar dan indah. Kebesaran singgasananya ini menunjukkan kerajaan yang dipimpinnya merupakan kerajaan yang besar dan makmur, yang ia senantiasa bersikap bijaksana terhadap rakyatnya.
2. Al-Khab’ الْخَبْء (an-Naml/27: 25)
Al-Khab’ merupakan bentuk ism al-maṣdar (kata benda) dari fi’il māḍī (kata kerja lampau) khaba’a yang berarti menyembunyikan. Dengan demikian, al-khab’ berarti ‘sesuatu yang tersembunyi’ atau ‘sesuatu yang terpendam.’ Dalam konteks ayat di atas, yang dimaksud al-khab’ adalah sesuatu yang tersembunyi atau terpendam, baik di langit maupun di bumi, yang berupa hujan di langit, tanaman-tanaman dan logam di bumi, dan sebagainya. Semua itu hanya Allah yang mampu menurunkan dan mengeluarkannya.




























