قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِيْنَ
Qul sīrū fil-arḍi fanẓurū kaifa kāna ‘āqibatul-mujrimīn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa.”
Katakanlah kepada mereka yang mendustakanmu, wahai Nabi Muhammad, sebagai peringatan dan ancaman untuk mereka, “Berjalanlah kamu semua di muka bumi, lalu perhatikanlah sejarah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa dengan mendustakan para Rasul di masa lalu, agar kamu dapat mengambil pelajaran yang membuat kamu takut akan azab Allah. Allah telah membinasakan mereka, dan akan memperlakukan hal yang sama terhadap kamu jika kamu tidak beriman.
Pada ayat ini, Allah menyuruh Nabi Muhammad saw agar memberi nasihat dan petunjuk kepada orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan. Nabi saw menyuruh mereka untuk melakukan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana nasib orang-orang yang berdosa di antara umat-umat terdahulu yang mendustakan Allah dan para rasul yang diutus-Nya. Bagaimana umat-umat itu telah mengalami kehancuran sebagai akibat kekafiran mereka kepada Allah dan hari Kebangkitan. Hendaknya peristiwa-peristiwa itu menjadi pelajaran bagi mereka. Akan tetapi, mereka tetap saja dalam keingkaran, sehingga mereka akan mengalami kehancuran, berdasarkan sunatullah yang tetap berlaku.
1. Radifa رَدِفَ (an-Naml/27: 72 )
Radifa secara bahasa bermakna membonceng atau mengikuti. Dalam konteks ayat di atas, radifa diartikan dengan hampir datang atau hampir tiba. Kata ini merupakan jawaban atas kecongkakan orang-orang kafir yang menantang Nabi Muhammad dengan menyatakan, “Bilakah datangnya azab itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” Atas tantangan ini, Allah memberi jawaban bahwa azab itu sebentar lagi datang atau tiba. Menurut para mufasir, yang dimaksud azab dalam hal ini tak lain adalah kekalahan mereka di Perang Badar.
2. Tukinnu تُكِنُّ (an-Naml/27: 74)
Tukinnu bermakna menyembunyikan. Dalam konteks ayat di atas, Allah sedang menjelaskan bahwa Dia mengetahui apa pun yang disembunyikan orang-orang kafir di dalam hati mereka. Kata ini juga ingin menjelaskan kemahatahuan Allah tentang segala hal yang tersembunyi (gaib) maupun terlihat, baik di bumi maupun di langit.



































