وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُنْ فِيْ ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُوْنَ
Wa lā taḥzan ‘alaihim wa lā takun fī ḍaiqim mimmā yamkurūn(a).
Janganlah engkau bersedih terhadap mereka dan janganlah merasa sempit (hati) terhadap upaya tipu daya mereka.
Laksanakanlah tugasmu dengan sebaik mungkin, dan janganlah engkau wahai Nabi Muhammad bersedih hati terhadap mereka yang enggan mengikuti ajaran yang engkau sampaikan, sebab tugasmu hanyalah menyampaikan risalah Kami, dan janganlah pula dadamu merasa sempit terhadap upaya tipu daya mereka, sebab Kami akan menolongmu dan melindungimu dari itu semua.”
Pada ayat ini, Nabi Muhammad diperintahkan Allah supaya berlaku sabar dan tenang menghadapi bermacam-macam tantangan dan cemoohan dari orang-orang kafir itu. Nabi dilarang bersedih hati dan putus asa menghadapi tipu daya mereka karena Allah pasti memberi pertolongan sehingga agama Islam akan tersebar luas ke seluruh pelosok bumi, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya, seperti tercantum dalam firman-Nya:
هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْن َ ٣٣
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (at-Taubah/9: 33)
1. Radifa رَدِفَ (an-Naml/27: 72 )
Radifa secara bahasa bermakna membonceng atau mengikuti. Dalam konteks ayat di atas, radifa diartikan dengan hampir datang atau hampir tiba. Kata ini merupakan jawaban atas kecongkakan orang-orang kafir yang menantang Nabi Muhammad dengan menyatakan, “Bilakah datangnya azab itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” Atas tantangan ini, Allah memberi jawaban bahwa azab itu sebentar lagi datang atau tiba. Menurut para mufasir, yang dimaksud azab dalam hal ini tak lain adalah kekalahan mereka di Perang Badar.
2. Tukinnu تُكِنُّ (an-Naml/27: 74)
Tukinnu bermakna menyembunyikan. Dalam konteks ayat di atas, Allah sedang menjelaskan bahwa Dia mengetahui apa pun yang disembunyikan orang-orang kafir di dalam hati mereka. Kata ini juga ingin menjelaskan kemahatahuan Allah tentang segala hal yang tersembunyi (gaib) maupun terlihat, baik di bumi maupun di langit.


































