وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Wa yaqūlūna matā hāżal-wa‘du in kuntum ṣādiqīn(a).
Mereka (orang-orang yang kufur) berkata, “Kapankah datangnya janji (azab) ini jika kamu orang-orang benar?”
Pendustaan orang-orang kafir itu telah mencapai puncaknya, dan mereka meminta agar siksa itu segera didatangkan dengan selalu berkata, “Kapankah datangnya janji azab yang kamu ancamkan itu? Buktikan jika kamu, wahai Nabi Muhammad dan pengikutmu, adalah orang yang benar dalam janji dan ancamanmu itu.”
Pada ayat ini diterangkan bahwa orang-orang Quraisy tidak saja mengingkari hari Kebangkitan, bahkan mereka menantang dengan menyuruh Nabi Muhammad mendatangkan azab yang diancamkan kepada mereka. Tantangan itu menunjukkan sikap mereka yang benar-benar mendustakan adanya hari Kebangkitan. Bahkan, mereka mengemukakan tuntutan kepada Nabi Muhammad untuk mempercepat datangnya ancaman Allah dengan ucapan mereka, “Bilakah datangnya azab yang kamu ancamkan kepada kami jika memang kamu orang-orang yang bisa dipercaya?”
1. Radifa رَدِفَ (an-Naml/27: 72 )
Radifa secara bahasa bermakna membonceng atau mengikuti. Dalam konteks ayat di atas, radifa diartikan dengan hampir datang atau hampir tiba. Kata ini merupakan jawaban atas kecongkakan orang-orang kafir yang menantang Nabi Muhammad dengan menyatakan, “Bilakah datangnya azab itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” Atas tantangan ini, Allah memberi jawaban bahwa azab itu sebentar lagi datang atau tiba. Menurut para mufasir, yang dimaksud azab dalam hal ini tak lain adalah kekalahan mereka di Perang Badar.
2. Tukinnu تُكِنُّ (an-Naml/27: 74)
Tukinnu bermakna menyembunyikan. Dalam konteks ayat di atas, Allah sedang menjelaskan bahwa Dia mengetahui apa pun yang disembunyikan orang-orang kafir di dalam hati mereka. Kata ini juga ingin menjelaskan kemahatahuan Allah tentang segala hal yang tersembunyi (gaib) maupun terlihat, baik di bumi maupun di langit.





































