قُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنَ رَدِفَ لَكُمْ بَعْضُ الَّذِيْ تَسْتَعْجِلُوْنَ
Qul ‘asā ay yakūna radifa lakum ba‘ḍul-lażī tasta‘jilūn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Boleh jadi sebagian dari (azab) yang kamu minta disegerakan itu telah hampir sampai kepadamu.”
Katakanlah kepada mereka, wahai Nabi Muhammad, “Boleh jadi sebagian dari azab yang kamu minta disegerakan itu telah hampir sampai kepadamu dan akan segera menimpamu.”
Nabi Muhammad disuruh Allah menjawab pertanyaan orang-orang Quraisy itu dengan mengatakan bahwa azab yang mereka tunggu-tunggu dan ingin disegerakan itu sebentar lagi pasti akan datang. Secara kenyataan, azab itu muncul berupa kebinasaan dan kekalahan yang akan mereka alami waktu Perang Badar. Sebanyak 70 orang di antara pemimpin mereka, termasuk Abu Jahal, terbunuh dan 70 orang lainnya menjadi tawanan perang.
1. Radifa رَدِفَ (an-Naml/27: 72 )
Radifa secara bahasa bermakna membonceng atau mengikuti. Dalam konteks ayat di atas, radifa diartikan dengan hampir datang atau hampir tiba. Kata ini merupakan jawaban atas kecongkakan orang-orang kafir yang menantang Nabi Muhammad dengan menyatakan, “Bilakah datangnya azab itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” Atas tantangan ini, Allah memberi jawaban bahwa azab itu sebentar lagi datang atau tiba. Menurut para mufasir, yang dimaksud azab dalam hal ini tak lain adalah kekalahan mereka di Perang Badar.
2. Tukinnu تُكِنُّ (an-Naml/27: 74)
Tukinnu bermakna menyembunyikan. Dalam konteks ayat di atas, Allah sedang menjelaskan bahwa Dia mengetahui apa pun yang disembunyikan orang-orang kafir di dalam hati mereka. Kata ini juga ingin menjelaskan kemahatahuan Allah tentang segala hal yang tersembunyi (gaib) maupun terlihat, baik di bumi maupun di langit.















































