وَمَنْ جَاۤءَ بِالسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوْهُهُمْ فِى النَّارِۗ هَلْ تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Wa man jā'a bis-sayyi'ati fakubbat wujūhuhum fin-nār(i), hal tujzauna illā mā kuntum ta‘malūn(a).
Siapa yang datang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah wajah mereka ke dalam neraka. Apakah kamu diberi balasan selain (yang setimpal) dengan apa yang telah kamu kerjakan?
Dan barangsiapa membawa kejahatan, yakni mempersekutukan Allah, lalu mati dalam keadaan musyrik, maka mereka itu akan mendapat balasan yang setimpal dengan kejahatannya, yaitu disungkurkanlah wajah mereka ke dalam neraka. Kepada mereka dikatakan, “Kamu tidak diberi balasan, melainkan setimpal dengan apa yang telah kamu kerjakan.”
Sebaliknya barang siapa yang menyekutukan Allah dan berbuat kejahatan, maka wajah mereka disungkurkan ke dalam neraka seraya dikatakan kepada mereka, “Kamu tidak mendapat balasan, melainkan setimpal dengan kemusyrikan dan kejahatan yang dahulu kamu kerjakan di dunia, sehingga menjadi sebab datangnya kemurkaan Allah.”
1. Aṣ-Ṣūr اَلصُّوْر (an-Naml/27: 87)
Kata aṣ-ṣūr berarti trompet, berasal dari fi‘il ṣāra-yaṣūru-ṣauran yang berarti berbunyi atau bersuara. Trompet yang dimaksud dalam ayat 87 Surah an-Naml adalah sangkakala yang ditiup ketika menjelang hari Kiamat. Pada peniupan pertama, semua yang hidup akan mati, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Sedangkan pada peniupan kedua, semua manusia akan bangkit dari kubur.
2. Dākhirīn دَاخِرِيْنَ (an-Naml/27: 87)
Kata dākhirin adalah isim fā’il dalam bentuk jama’ yang berarti orang-orang yang merendahkan diri, diambil dari fi’il (kata kerja) dakhira-yadkharu-dakhran, yang berarti kecil, rendah, hina. Makna dākhirīn dalam ayat 87 Surah an-Naml adalah orang-orang yang merendahkan diri datang kepada Allah setelah dibangkitkan/dihidupkan kembali di akhirat.
















































