مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ خَيْرٌ مِّنْهَاۚ وَهُمْ مِّنْ فَزَعٍ يَّوْمَىِٕذٍ اٰمِنُوْنَ
Man jā'a bil-ḥasanati falahū khairum minhā, wa hum min faza‘iy yauma'iżin āminūn(a).
Siapa yang datang membawa kebaikan, maka dia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya dan mereka merasa aman dari kejutan (yang dahsyat) pada hari itu.
Setelah Kiamat terjadi dan manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar, menghadap Tuhannya dengan merendahkan diri, keadaan mereka digambarkan sebagai berikut: barang siapa membawa kebaikan, yakni keimanan yang benar, tulus dan sempurna yang membuahkan amal saleh, maka dia akan memperoleh balasan yang lebih baik daripadanya, yakni balasan yang berlipat ganda dari sepuluh hingga tujuh ratus kali, bahkan tidak terbatas, sedang mereka merasa aman dan tenteram dari kejutan yang dahsyat pada hari penghimpunan di Padang Mahsyar itu.
Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan melaksanakan amal kebajikan, akan memperoleh balasan yang lebih baik dari amalnya sendiri, dan diberi tempat kediaman yang nyaman dan kekal dalam surga Na’īm, mereka aman tenteram dari kejutan yang dahsyat pada hari Kiamat itu.
1. Aṣ-Ṣūr اَلصُّوْر (an-Naml/27: 87)
Kata aṣ-ṣūr berarti trompet, berasal dari fi‘il ṣāra-yaṣūru-ṣauran yang berarti berbunyi atau bersuara. Trompet yang dimaksud dalam ayat 87 Surah an-Naml adalah sangkakala yang ditiup ketika menjelang hari Kiamat. Pada peniupan pertama, semua yang hidup akan mati, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Sedangkan pada peniupan kedua, semua manusia akan bangkit dari kubur.
2. Dākhirīn دَاخِرِيْنَ (an-Naml/27: 87)
Kata dākhirin adalah isim fā’il dalam bentuk jama’ yang berarti orang-orang yang merendahkan diri, diambil dari fi’il (kata kerja) dakhira-yadkharu-dakhran, yang berarti kecil, rendah, hina. Makna dākhirīn dalam ayat 87 Surah an-Naml adalah orang-orang yang merendahkan diri datang kepada Allah setelah dibangkitkan/dihidupkan kembali di akhirat.














































