وَمَكَرُوْا مَكْرًا وَّمَكَرْنَا مَكْرًا وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ
Wa makarū makraw wa makarnā makraw wa hum lā yasy‘urūn(a).
Mereka membuat tipu daya dan Kami pun menyusun tipu daya, sedangkan mereka tidak sadar.
Dan mereka membuat tipu daya terhadap Nabi Saleh dan keluarganya dan Kami pun menyusun tipu daya untuk menghancurkan mereka, sebagai balasan atas tipu daya mereka, sedang mereka tidak menyadari-nya.
Allah menerangkan bahwa rencana perbuatan makar dan tipu daya yang dibuat oleh kaum Samud adalah untuk membunuh Nabi Saleh dan orang-orang yang beriman besertanya. Akan tetapi, mereka lupa bahwa Allah mempunyai rencana dan kehendak yang tidak dapat mereka halangi sedikit pun, sesuai dengan sunah-Nya, yaitu Dia akan menimpakan azab dan siksa kepada orang-orang yang mengingkari seruan para rasul yang diutus-Nya. Di dunia mereka akan ditimpa malapetaka yang datang tanpa mereka sadari, sedang di akhirat nanti mereka akan menemui azab yang pedih.
1. Iṭṭayyarnā Bika اطَّيَّرْنَا بِكَ (an-Naml/27: 47).
Kata iṭṭayyarnā berasal dari taṭayyarnā. Huruf ta’ (ت) dalam proses ilal diganti dengan ṭa’ (ط), lalu ṭa’ yang pertama di-idgam-kan ke ṭa’ yang kedua. Untuk menghidupkan kalimat yang ada, ditambahkan hamzah waṣal sehingga menjadi iṭṭayyarnā. Iṭṭayyarnā bika berarti: kami mendapat nasib yang malang disebabkan kamu. Kata iṭṭayyarnā diambil dari kata ṭair yang artinya burung. Orang Arab Jahiliah selalu mengaitkan nasib mereka dengan burung. Jika ada burung yang terbang ke kanan, maka nasibnya akan baik, dan jika ke kiri akan buruk. Sikap seperti ini dinamakan taṭayyur atau ṭiyarah. Lalu kata ini diucapkan untuk mengungkapkan nasib buruk.
Dalam konteks ayat di atas, ucapan ini diungkapkan oleh sekelompok orang yang masih ragu mengikuti dakwah Nabi Saleh. Mereka beranggapan bahwa nasib buruk yang mereka alami karena faktor Nabi Saleh dan para pengikutnya. Itu adalah tuduhan tak berdasar dari sekelompok orang yang hendak mencari kambing hitam atas nasib buruk yang dialaminya. Oleh karenanya, Nabi Saleh lalu membantah tuduhan itu dengan mengatakan, “Nasibmu ada di sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji.” Ujian itu, menurut Qatādah, berupa ketaatan dan kemaksiatan.
2. Tis’ah Rahṭ تِسْعَةُ رَهْطٍ (an-Naml/27: 48).
Tis’ah rahṭ berarti sembilan orang. Bisa juga diartikan tis’ah nafar yaitu sembilan kelompok, sebagaimana dikatakan Ibnu Kasir. Kata rahṭ digunakan untuk kelompok orang yang jumlahnya kurang dari sepuluh. Akan tetapi, ada juga yang mengatakan sampai 40 orang.
Dalam konteks ayat di atas, sembilan orang itu adalah para pembesar dan pemimpin kaum Samud yang melakukan kerusakan di bumi. Menurut as-Suddi, seperti diriwayatkannya dari Ibnu Malik dari Ibnu ‘Abbās, kesembilan pembesar Samud itu adalah Da’ma, Du’aim, Harma, Huraim, Dab, Ṣawab, Rayyab, Musṭi’, dan Qidar bin Salif. Mereka selalu berbuat kerusakan tanpa pernah berbuat kebaikan. Orang-orang inilah yang berusaha melakukan makar untuk membunuh Nabi Saleh. Hanya saja sebelum rencana mereka kesampaian, Allah terlebih dahulu membinasakan mereka beserta kaumnya.



































