Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 18 - Surat An-Naml (Semut)
النّمل
Ayat 18 / 93 •  Surat 27 / 114 •  Halaman 378 •  Quarter Hizb 38.5 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

Ḥattā iżā atau ‘alā wādin-naml(i), qālat namlatuy yā ayyuhan-namludkhulū masākinakum, lā yaḥṭimannakum sulaimānu wa junūduhū wa hum lā yasy‘urūn(a).

hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.”

Makna Surat An-Naml Ayat 18
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Para prajurit tersebut mulai bergerak maju. Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut kepada teman-temannya, “Wahai semut-semut! Nabi Sulaiman dan bala tentaranya sudah mendekati perkampungan kita, selamatkanlah diri kalian. Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari akan keberadaan kita.” Jika semut yang kecil saja mampu didengar dan dipahami bahasanya oleh Nabi Sulaiman, apalagi hewan yang lebih besar lagi. Inilah salah satu anugerah Allah kepadanya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa pada suatu ketika Sulaiman berjalan dengan tentaranya pada suatu daerah, yang menurut Qatadah, merupakan suatu daerah di lembah Syam. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba Sulaiman mendengar suara raja semut yang memerintahkan kepada rakyatnya agar segera memasuki liangnya masing-masing, agar tidak terinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya. Sulaiman dan tentaranya bisa menginjak mereka tanpa menyadarinya, karena semut makhluk yang amat kecil, sehingga Sulaiman dan bala tentaranya tidak melihatnya.

Ayat ini memperlihatkan adanya komunikasi di antara semut dan kehidupan sosial di bawah kepemimpinan rajanya. Penelitian mengungkap-kan bahwa untuk melaksanakan kehidupan sosial yang sangat terorganisasi ini, semut mempunyai kemampuan komunikasi yang canggih. Di bagian kepala semut terdapat seperangkat alat peraba yang dapat mengenali sinyal kimia maupun visual. Otaknya terdiri atas sekitar setengah juta simpul syaraf, mempunyai mata yang berfungsi baik, dan sungut yang berfungsi sebagai hidung untuk mencium atau ujung jari untuk meraba. Tonjolan-tonjolan yang terletak di bawah mulutnya berfungsi sebagai pencecap. Sedang rambut-rambut yang ada di tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan.

Walaupun banyak organ yang dimiliki semut untuk berkomunikasi, namun komunikasi utama yang dilakukan adalah komunikasi kimiawi. Mereka berkomunikasi dengan menggunakan feromon, suatu senyawa kimia seperti hormon yang mengeluarkan bau dan dihasilkan oleh salah satu kelenjar di dalam tubuh semut itu. Dengan menggunakan hormon inilah semut berkomunikasi. Apabila seekor semut mengeluarkan feromon, maka semut lainnya akan menerimanya dengan cara mencium baunya atau menyentuhnya, dan bereaksi terhadapnya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Manṭiqaṭ-Ṭair مَنْطِقُ الطَّيْرِ (an-Naml/27: 16).

Kalimat manṭiq merupakan isim ‘alat dari kata naṭaqa-yanṭiqu yang secara bahasa berarti suara-suara yang muncul melalui salah satu organ tubuh yaitu lidah, dan dapat didengar oleh telinga serta mengandung arti. Kalimat nāṭiq biasanya juga digunakan untuk manusia. Oleh karena itu, para ahli mantiq mendefinisikan manusia dengan hayawān an-nātiq (hewan yang dapat berbicara). Tetapi kata ini pun bisa digunakan untuk selain manusia melalui kiasan. Suara burung dalam ayat ini diungkapkan dengan kata mantiq, karena Nabi Sulaiman bisa memahami bahasa burung. Bagi Sulaiman, burung tersebut bersifat nāṭiq walaupun bagi yang lain suara burung bersifat ṣāmiṭ (diam). Artinya, bagi mereka yang tidak bisa memahami bahasa yang lain, dia disebut ṣāmiṭ walaupun dia bisa bicara. Sedangkan kata ṭair adalah bentuk jamak dari ṭāir yang berarti setiap sesuatu yang memiliki sayap yang membuatnya bisa terbang di udara.

2. Yuza’ūn يُوْزَعُوْنَ (an-Naml/27: 17)

Asal katanya adalah waza’a yang berarti membagi dan mencukupkannya. Kata yuza’ūn menunjukkan adanya ketertiban dan kerapian walaupun ber-jumlah banyak. Ayat ini menerangkan tentang keistimewaan Nabi Sulaiman, bahwa beliau memiliki pasukan dan bala tentara yang terdiri atas berbagai macam makhluk Allah seperti manusia, jin, dan binatang-binatang. Tentaranya ini walaupun bermacam-macam dan bukan seperti Sulaiman, tetapi semuanya ketika dikerahkan untuk melawan musuh-musuh Allah, mereka bersatu dan tersusun dengan rapi di bawah satu komando Nabi Sulaiman.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto