Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 47 - Surat An-Naml (Semut)
النّمل
Ayat 47 / 93 •  Surat 27 / 114 •  Halaman 381 •  Quarter Hizb 38.75 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَّعَكَۗ قَالَ طٰۤىِٕرُكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُوْنَ

Qāluṭ ṭayyarnā bika wa bimam ma‘ak(a), qāla ṭā'irukum ‘indallāhi bal antum qaumun tuftanūn(a).

Mereka menjawab, “Kami bernasib malang karena engkau dan orang-orang yang bersamamu.” Dia (Saleh) berkata, “Nasibmu (malang atau tidak ditetapkan) di sisi Allah (bukan karena kami). Kamu adalah kaum yang sedang diuji.”

Makna Surat An-Naml Ayat 47
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Mendengar nasihat Nabi Saleh tersebut, mereka menjawab, “Kami mendapat nasib yang malang seperti perpecahan di antara kami, kepahitan hidup, gagal panen, dan lain sebagainya, disebabkan oleh kamu dan orang-orang yang bersamamu. Sebelum kamu datang menyeru kepada kami, kami tidak menemukan nasib seperti ini.” Nabi Saleh, berkata, “Nasibmu, baik itu nasib baik atau buruk ada pada Allah sesuai dengan ketetapan-Nya, bukan kami yang menjadi sebab, tetapi kamu adalah kaum yang sedang diuji, apakah setelah kedatanganku sebagai nabi utusan Allah, kamu beriman kepadanya atau tidak. Jika beriman, kamu akan mendapat pahala dan jika kafir kamu akan mendapatkan siksaan.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kaum Samud yang ingkar itu menjawab seruan Nabi Saleh dengan mengatakan bahwa mereka merasa sial dengan seruan Nabi Saleh dan orang-orang yang beriman kepadanya. Semenjak Nabi Saleh menyeru mereka agar meninggalkan tuhan-tuhan mereka dan hanya menyembah Tuhan Yang Maha Esa, mereka telah ditimpa pelbagai malapetaka, seperti tidak turunnya hujan yang menyebabkan kekeringan dan lain-lain. Mereka percaya akan terus ditimpa bencana karena kemarahan tuhan-tuhan mereka akibat perbuatan Nabi Saleh itu. Tanda-tanda kesialan dan kedatangan bencana itu tampak pada setiap kali mereka melempar dan mengejuti burung, yang memberi tanda ramalan nasib mereka, burung itu memperlihatkan tanda-tanda yang tidak baik kepada mereka.

Mereka menjawab demikian karena kebodohan dan kepercayaan mereka kepada takhayul dan lain-lain. Sebagaimana orang-orang primitif yang percaya pada kekuatan-kekuatan gaib yang terdapat pada benda-benda di alam ini, di samping kekuatan gaib yang ada pada Allah sendiri, demikian pula halnya kaum Samud. Salah satu kepercayaan dan adat kebiasaan kaum Samud ialah apabila mereka dalam perjalanan jauh menemui burung-burung dari kanan ke arah kiri, mereka gembira. Hal yang demikian mengisyaratkan bahwa mereka boleh meneruskan perjalanan. Sebaliknya jika burung itu terbang dan lari dari kiri menuju ke arah kanan, hal itu menandakan bahwa ada musibah jika mereka tetap melakukan perjalanan jauh.

Nabi Saleh menjawab pernyataan kaumnya itu dengan mengatakan bahwa sesungguhnya apa saja yang menimpa mereka, apakah baik atau buruk, bahagia atau sengsara, adalah ketentuan Allah dan itulah qaḍa dan qadarnya. Tiada seorang pun yang dapat mengubah qaḍa dan qadar Allah itu. Jika Dia menghendaki, Dia akan memberikan rezeki. Jika Dia menghendaki, mereka tidak akan diberi-Nya rezeki sedikit pun. Ia beserta pengikut-pengikutnya tidak kuasa sedikit pun mendatangkan kesialan atau keberuntungan kepada mereka.

Kemudian Nabi Saleh menerangkan bahwa kesialan itu merupakan ujian dari Tuhan kepada mereka, apakah mereka mau mengikuti seruannya dan tidak lagi mengerjakan perbuatan-perbuatan terlarang yang biasa dikerjakan, atau tidak mau mengikutinya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Iṭṭayyarnā Bika اطَّيَّرْنَا بِكَ (an-Naml/27: 47).

Kata iṭṭayyarnā berasal dari taṭayyarnā. Huruf ta’ (ت) dalam proses ilal diganti dengan ṭa’ (ط), lalu ṭa’ yang pertama di-idgam-kan ke ṭa’ yang kedua. Untuk menghidupkan kalimat yang ada, ditambahkan hamzah waṣal sehingga menjadi iṭṭayyarnā. Iṭṭayyarnā bika berarti: kami mendapat nasib yang malang disebabkan kamu. Kata iṭṭayyarnā diambil dari kata ṭair yang artinya burung. Orang Arab Jahiliah selalu mengaitkan nasib mereka dengan burung. Jika ada burung yang terbang ke kanan, maka nasibnya akan baik, dan jika ke kiri akan buruk. Sikap seperti ini dinamakan taṭayyur atau ṭiyarah. Lalu kata ini diucapkan untuk mengungkapkan nasib buruk.

Dalam konteks ayat di atas, ucapan ini diungkapkan oleh sekelompok orang yang masih ragu mengikuti dakwah Nabi Saleh. Mereka beranggapan bahwa nasib buruk yang mereka alami karena faktor Nabi Saleh dan para pengikutnya. Itu adalah tuduhan tak berdasar dari sekelompok orang yang hendak mencari kambing hitam atas nasib buruk yang dialaminya. Oleh karenanya, Nabi Saleh lalu membantah tuduhan itu dengan mengatakan, “Nasibmu ada di sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji.” Ujian itu, menurut Qatādah, berupa ketaatan dan kemaksiatan.

2. Tis’ah Rahṭ تِسْعَةُ رَهْطٍ (an-Naml/27: 48).

Tis’ah rahṭ berarti sembilan orang. Bisa juga diartikan tis’ah nafar yaitu sembilan kelompok, sebagaimana dikatakan Ibnu Kasir. Kata rahṭ digunakan untuk kelompok orang yang jumlahnya kurang dari sepuluh. Akan tetapi, ada juga yang mengatakan sampai 40 orang.

Dalam konteks ayat di atas, sembilan orang itu adalah para pembesar dan pemimpin kaum Samud yang melakukan kerusakan di bumi. Menurut as-Suddi, seperti diriwayatkannya dari Ibnu Malik dari Ibnu ‘Abbās, kesembilan pembesar Samud itu adalah Da’ma, Du’aim, Harma, Huraim, Dab, Ṣawab, Rayyab, Musṭi’, dan Qidar bin Salif. Mereka selalu berbuat kerusakan tanpa pernah berbuat kebaikan. Orang-orang inilah yang berusaha melakukan makar untuk membunuh Nabi Saleh. Hanya saja sebelum rencana mereka kesampaian, Allah terlebih dahulu membinasakan mereka beserta kaumnya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto