Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 115 - Surat An-Nisā' (Perempuan)
النّساۤء
Ayat 115 / 176 •  Surat 4 / 114 •  Halaman 97 •  Quarter Hizb 10.5 •  Juz 5 •  Manzil 1 • Madaniyah

وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا ࣖ

Wa may yusyāqiqir-rasūla mim ba‘di mā tabayyana lahul-hudā wa yattabi‘ gaira sabīlil-mu'minīna nuwallihī mā tawallā wa nuṣlihī jahannam(a), wa sā'at maṣīrā(n).

Siapa yang menentang Rasul (Nabi Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dalam kesesatannya dan akan Kami masukkan ke dalam (neraka) Jahanam. Itu seburuk-buruk tempat kembali.

Makna Surat An-Nisa' Ayat 115
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Pada ayat yang lalu Allah menerangkan pahala bagi orang-orang yang mengikuti tuntunan Rasulullah, sedang pada ayat ini Allah mem-beri peringatan. Dan barang siapa yang terus-menerus menentang Rasul, yaitu Nabi Muhammad, setelah jelas baginya kebenaran yang disampaikan kepadanya, bukan sebelum diketahuinya kebenaran itu, dan dilanjutkan dengan mengikuti jalan yang sesat, yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia, kelak di hari Akhirat ke dalam neraka Jahanam sebagai balasan yang setimpal atas penentangan mereka terhadap Rasulullah, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Seseorang yang menentang Rasulullah setelah nyata baginya kebenaran risalah yang dibawanya, serta mengikuti jalan orang yang menyimpang dari jalan kebenaran, maka Allah membiarkan mereka menempuh jalan sesat yang dipilihnya. Kemudian Dia akan memasukkan mereka ke dalam neraka, tempat kembali yang seburuk-buruknya. Ayat ini erat hubungannya dengan tindakan Tu’mah dan pengikut-pengikutnya, dan perbuatan orang-orang yang bertindak seperti yang dilakukan Tu’mah itu.

Dari ayat ini dipahami bahwa Allah telah menganugerahkan kepada manusia kemauan dan kebebasan memilih. Pada ayat Al-Qur’an yang lain diterangkan pula bahwa Allah telah menganugerahkan akal, pikiran dan perasaan serta melengkapinya dengan petunjuk-petunjuk yang dibawa para rasul. Jika manusia menggunakan dengan baik semua anugerah Allah itu, pasti ia dapat mengikuti jalan yang benar.

Tetapi kebanyakan manusia mementingkan dirinya sendiri, mengikuti hawa nafsunya sehingga ia tidak menggunakan akal, pikiran, perasaan, dan petunjuk-petunjuk Allah dalam menetapkan dan memilih perbuatan yang patut dikerjakannya. Karena itu ada manusia yang menantang dan memusuhi para rasul, setelah nyata bagi mereka kebenaran dan ada pula manusia yang suka mengerjakan pekerjaan jahat, sekalipun hatinya mengakui kesalahan perbuatannya itu.

Allah menilai perbuatan manusia, kemudian Dia memberi balasan yang setimpal, amal baik dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, sedang perbuatan buruk diberi balasan yang setimpal dengan perbuatan itu.

Isi Kandungan Kosakata

1. Najwāhum نَجْوٰـهُمْ (an-Nisā’/4: 114)

Kata najwā adalah masdar, artinya pembicaraan rahasia. Kata ini terambil dari kata an-najwu artinya tempat yang tertutup atau tersembunyi yang digunakan untuk membicarakan hal-hal yang rahasia. An-Najwā biasanya digunakan untuk pembicaraan rahasia yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara sembunyi maupun terang-terangan di hadapan orang banyak untuk membahas penghianatan dan tindakan buruk lainnya, dan menyembunyikan niat busuk tersebut dari orang lain. Fenomena an-najwā muncul di Medinah di kalangan orang-orang munafik dan Yahudi. Tindakan ini menimbulkan kecurigaan dan kerisauan di kalangan kaum Muslimin, bahkan perilaku ini sering menimbulkan kericuhan. Maka ayat ini mencela an-najwā dan melarangnya. Semua pembicaraan harus dilakukan secara terang-terangan kecuali pada hal-hal yang bersifat kebaikan, yang sebaiknya tidak diketahui oleh orang yang menerima kebaikan tersebut atau orang lain, seperti sedekah, mendamaikan orang-orang yang berseteru dan lain-lain. Selain pada ayat ini, larangan untuk melakukan pembicaraan secara berbisik-bisik juga disebutkan pada Surah al-Mujādalah/58 ayat 8 dan al-Anbiyā’/21 ayat 3. An-Najwā juga dikatakan sebagai tindakan yang berasal dari setan (al-Mujādalah/58: 10).

2. Yusyāqiq يُشَاقِقْ (an-Nisā’/4: 115)

Yusyāqiq bentuk fi’l muḍāri’ dari syāqqa, yang asalnya syaqaqa. Akar katanya (الشقّ) yang berarti membelah, memecah, meretakkan dan lain sebagainya. Yusyāqiq diartikan menentang dengan sengaja karena dia ingin berada pada posisi bersebelahan dengan yang lain. Yang dimaksud dengan yusyaqiq pada ayat ini adalah orang-orang yang murtad sesudah mereka masuk Islam atau orang-orang yang menentang Rasulullah dan Islam dengan keras kepala, meskipun kebenaran Rasul dengan berbagai mukjizatnya telah jelas bagi mereka. Maka ayat ini menjadi ancaman bagi tindakan mereka yang tercela.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto