لٰكِنِ اللّٰهُ يَشْهَدُ بِمَآ اَنْزَلَ اِلَيْكَ اَنْزَلَهٗ بِعِلْمِهٖ ۚوَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَشْهَدُوْنَ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًاۗ
Lākinillāhu yasyhadu bimā anzala ilaika anzalahū bi‘ilmih(ī), wal-malā'ikatu yasyhadūn(a), wa kafā billāhi syahīdā(n).
Akan tetapi, Allah bersaksi atas apa (Al-Qur’an) yang telah diturunkan-Nya kepadamu (Nabi Muhammad). Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya. (Demikian pula) para malaikat pun bersaksi. Cukuplah Allah menjadi saksi.
Tetapi, ketahuilah bahwa Allah menjadi saksi atas kebenaran AlQur’an, kitab suci yang diturunkan-Nya kepadamu, wahai Muhammad. Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya yang amat sempurna, dan demikian pula para malaikat pun menyaksikan kebenaran Al-Qur’an itu. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi, sebab Dia yang mengutusmu dan mewahyukan Al-Qur’an kepadamu.
Walaupun orang Yahudi itu mengingkari kenabian Muhammad saw dan tidak mau menjadi saksi atas kebenarannya, namun Allah yang menjadi saksi atas kebenaran Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad. Allah memperkuat lagi kesaksian-Nya dengan menyatakan bahwa Allah telah menurunkan Al-Qur’an dengan ilmu-Nya, yang belum pernah diketahui oleh Nabi Muhammad dan kaum mukminin, dengan rangkaian dan susunan kata-katanya yang indah, bukan prosa, bukan puisi, berisi ilmu dan hikmah yang padat, tidak mungkin ditiru oleh siapa pun, sanggup menghadapi tantangan zaman, kapan saja dan di mana saja, mengandung aspek-aspek ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh masyarakat, sesuai dengan firman Allah:
مَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ
...Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab…. (al-An‘ām/6:38).
Maksudn ya dalam Al-Qur’an telah ada pokok-pokok ajaran agama, norma-norma, hikmah-hikmah dan tuntunan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat dan kebahagiaan makhluk pada umumnya. Al-Qur’an mengandung berita-berita yang gaib tentang masa lampau, masa sekarang dan masa mendatang. Barang siapa dengan tekun mempelajari Al-Qur’an akan bertambah yakin atas kebenarannya dan sanggup pula menjadi saksi. Para malaikat pun terutama Jibril yang jadi perantara dalam turunnya Al-Qur’an itu, ikut menjadi saksi atas kebenarannya. Sebenarnya cukup dengan kesaksian dari Allah, sebab tidak ada yang lebih benar dan terpercaya daripada kesaksian Allah.
Kallama كَلَّمَ (an-Nisā/4:164)
Kata dasarnya kalama (كلم) yaitu “memberikan bekas kepada sesuatu yang bisa diketahui baik lewat pendengaran, perkataan atau lewat penglihatan”. Kallama artinya “berbicara”, “berkata”, “bercakap-cakap”. Pada ayat 164 ini diterangkan bahwa Allah berbicara dengan Musa secara langsung, tidak melalui malaikat Jibril. Pembicaraan Allah secara langsung dengan Musa ini merupakan mukjizat yang hanya diberikan kepada Nabi Musa dalam rangka menurunkan wahyu, karena dalam Surah asy-Syūrā/42:51 disebutkan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang bisa berbicara langsung dengan Allah kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir. Dalam pembicaraan ini Musa juga hanya mendengar suara kalam Allah, dan tidak dapat melihat-Nya. Musa adalah satu-satunya rasul yang berkesempatan berbicara dengan Allah secara langsung sehingga Musa disebut Kalimullah. Pada surah al-A‘rāf/7:143 diterangkan ketika Allah berbicara langsung dengan Musa kemudian Nabi Musa a.s. memohon untuk dapat melihat Allah, maka Allah menerangkan bahwa Musa tidak mungkin dapat melihat Allah. Waktu itu Musa hanya disuruh untuk melihat gunung, jika gunung itu tetap di tempatnya barulah ia dapat melihat Allah. Tetapi ketika Allah menampakkan diri, gunung itu hancur dan Musa terpelanting pingsan.
















































