يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوْبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ
Yurīdullāhu liyubayyina lakum wa yahdiyakum sunanal-lażīna min qablikum wa yatūba ‘alaikum, wallāhu ‘alīmun ḥakīm(un).
Allah hendak menerangkan (syariat-Nya) kepadamu, menunjukkan kepadamu berbagai jalan (kehidupan) orang yang sebelum kamu (para nabi dan orang-orang saleh), dan menerima tobatmu. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Allah Zat Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana secara terus menerus hendak menerangkan hukum-hukum syariat-Nya kepadamu termasuk hukum tentang hubungan laki-laki dan perempuan, dan juga secara terus-menerus hendak menunjukkan kepada kamu jalan-jalan kehidupan orang yang sebelum kamu yakni para nabi dan orang-orang saleh, dan Dia secara terus-menerus pula menerima tobatmu selama kamu bertobat dengan tulus dan sepenuh hati. Allah Maha Mengetahui siapa di antara kamu yang bertobat dengan tulus sepenuh hati dan siapa yang hanya separuh hati, Mahabijaksana dalam menetapkan hukumhukum-Nya.
Ayat ini menerangkan kepada kaum Muslimin apa yang belum jelas baginya dan memberinya petunjuk ke jalan yang ditempuh oleh para nabi dan salihin sebelumnya, yaitu hukum yang tersebut dalam ayat 19, 20 dan 21 di antaranya yang mengenai hubungan rumah tangga di antara suami-istri, seperti bergaul dengan istri dengan cara yang sebaik-baiknya dan mahar istri yang dicerai tidak boleh diambil kembali karena mahar itu sudah menjadi hak penuh istri yang dicerai. Jika mereka mengikuti petunjuk Allah itu, dengan melaksanakan perintah-Nya dan berbuat amal kebajikan, niscaya amal itu dapat menghapus dosa-dosanya.
Syahawāt شَهَوَات(an-Nisā’ /4: 27)
Syahawāt, jamak syahwah, yaitu “kecenderungan jiwa kepada sesuatu yang diinginkan”. Kecenderungan ini terbagi dua: kecenderungan yang benar (صادقة), yaitu yang dapat merusak tubuh jika tidak dipenuhi, seperti makan ketika lapar, dan kecenderungan yang tidak benar (كاذبة), yaitu yang tidak merusak tubuh jika keinginan tersebut tidak dipenuhi. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat, “manusia cinta terhadap apa yang diinginkan (syahawāt), yaitu perempuan, anak-anak, dan harta benda…” (Āli ‘Imrān/3:14). Syahawāt di sini mencakup keduanya. Tetapi dalam ayat, “Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan salat dan mengikuti keinginannya (syahawāt).” (Maryam/19:59). Arti syahawāt di sini lebih pada hal-hal yang sifatnya kecenderungan yang tidak benar (كاذبة). Yang dimaksud dengan mengikuti syahwat dalam ayat ini adalah melanggar syariat agama yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya, seperti mengawini keluarga dekat, istri yang bersuami dan lain-lain.












































