وَاللّٰهُ يُرِيْدُ اَنْ يَّتُوْبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَيُرِيْدُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الشَّهَوٰتِ اَنْ تَمِيْلُوْا مَيْلًا عَظِيْمًا
Wallāhu yurīdu ay yatūba ‘alaikum, wa yurīdul-lażīna yattabi‘ūnasy-syahawāti an tamīlū mailan ‘aẓīmā(n).
Allah hendak menerima tobatmu, sedangkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).
Dan ketahuilah bahwa Allah hendak menerima tobatmu yang kamu lakukan dengan tulus dan sepenuh hati, sedang orang-orang yang semata-mata hanya mengikuti keinginan hawa nafsu-nya, menghendaki dan berupaya dengan segala cara agar kamu berpaling sejauh-jauhnya dari kebenaran.
Allah memberi ampunan kepada mereka dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, agar mereka menyucikan dan membersihkan diri mereka lahir batin, meskipun orang-orang yang mengikuti syahwat dan hawa nafsunya, selalu berpaling dari jalan yang lurus, dan menarik orang mukmin agar ikut terjerumus bersama mereka ke lembah kesesatan, karena dengan melaksanakan perintah Allah dan menaatinya akan tercapailah apa yang dikehendakinya untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka. Allah melarang menikahi perempuan-perempuan yang tersebut pada ayat 22, 23 dan 24 karena menikahi perempuan-perempuan tersebut akan mengakibatkan kerusakan di masyarakat dan mengacaubalaukan hubungan nasab dan hubungan keluarga, sedang keluarga adalah tulang punggung kebahagiaan masyarakat. Perempuan-perempuan selain mereka boleh dinikahi untuk memelihara kelanjutan keturunan, menghindarkan masyarakat dari kekacauan dan terperosok ke dalam jurang perzinaan dan lain sebagainya.
Syahawāt شَهَوَات(an-Nisā’ /4: 27)
Syahawāt, jamak syahwah, yaitu “kecenderungan jiwa kepada sesuatu yang diinginkan”. Kecenderungan ini terbagi dua: kecenderungan yang benar (صادقة), yaitu yang dapat merusak tubuh jika tidak dipenuhi, seperti makan ketika lapar, dan kecenderungan yang tidak benar (كاذبة), yaitu yang tidak merusak tubuh jika keinginan tersebut tidak dipenuhi. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat, “manusia cinta terhadap apa yang diinginkan (syahawāt), yaitu perempuan, anak-anak, dan harta benda…” (Āli ‘Imrān/3:14). Syahawāt di sini mencakup keduanya. Tetapi dalam ayat, “Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan salat dan mengikuti keinginannya (syahawāt).” (Maryam/19:59). Arti syahawāt di sini lebih pada hal-hal yang sifatnya kecenderungan yang tidak benar (كاذبة). Yang dimaksud dengan mengikuti syahwat dalam ayat ini adalah melanggar syariat agama yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya, seperti mengawini keluarga dekat, istri yang bersuami dan lain-lain.

































