Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 62 - Surat An-Nisā' (Perempuan)
النّساۤء
Ayat 62 / 176 •  Surat 4 / 114 •  Halaman 88 •  Quarter Hizb 9.5 •  Juz 5 •  Manzil 1 • Madaniyah

فَكَيْفَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۢبِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ ثُمَّ جَاۤءُوْكَ يَحْلِفُوْنَ بِاللّٰهِ ۖاِنْ اَرَدْنَآ اِلَّآ اِحْسَانًا وَّتَوْفِيْقًا

Fa kaifa iżā aṣābathum muṣībatum bimā qaddamat aidīhim ṡumma jā'ūka yaḥlifūna billāh(i), in aradnā illā iḥsānaw wa taufīqā(n).

Bagaimana halnya apabila (kelak) musibah menimpa mereka (orang munafik) karena perbuatannya sendiri. Kemudian, mereka datang kepadamu (Nabi Muhammad) sambil bersumpah, “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain kebaikan dan perdamaian.”

Makna Surat An-Nisa' Ayat 62
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Jika perilaku orang-orang munafik itu seperti yang digambarkan tersebut, bagaimana bila mereka ditimpa musibah? Maka bagaimana halnya tindakan mereka apabila kelak musibah menimpa sebagai hukuman atas keengganan mereka mengikuti tuntunan Allah disebabkan perbuatan tangannya sendiri, kemudian mereka datang kepadamu, wahai Nabi Muhammad dengan tunduk tetapi membawa dalih sambil bersumpah palsu, “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki untuk menjadikan Tagut sebagai hakim. Tiada yang kami kehendaki selain kebaikan dan kedamaian.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan tentang kelicikan orang-orang munafik, apabila mereka ditimpa suatu musibah karena rahasia mereka telah terbuka dan diketahui oleh Rasulullah dan orang-orang mukmin, mereka datang kepada Nabi sambil bersumpah, "Demi Allah, perbuatan kami itu bukanlah dengan maksud jahat dan sengaja melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, tetapi semata-mata karena ingin hendak mencapai penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna,” padahal sumpah mereka itu hanyalah semata-mata siasat licik belaka.

Isi Kandungan Kosakata

Yataḥākamū يَتَحَاكَمُوْا (an-Nisā’/4: 60)

Taḥākama atau muḥākamah berasal dari lafal ḥakama-ḥukm. Lafal ḥukm arti dasarnya adalah mencegah untuk perbaikan. Seorang hakim dinamakan demikian karena ia bisa mencegah orang lain berbuat zalim. Lafal ḥukm juga berarti pengetahuan dan pemahaman yang mendalam, sebagaimana di dalam firman Allah, “Dan Kami berikan hikmah kepadanya selagi ia masih kanak-kanak” (Maryam/19:12). Makna ini identik dengan makna ḥikmah, yaitu mengetahui hakekat sesuatu dengan pengetahuan yang paling utama. Pemilik ḥikmah disebut ḥakīm atau ḥakam atau hākim. Lafal ḥakīm tidak boleh diterapkan untuk manusia, agar tidak menyamai Allah swt yang di antara sifat-Nya adalah Al-Ḥakīm. Di antara bagian Al-Qur’an disebut muḥkam karena tidak ada perselisihan dan pertentangan mengenai maknanya, seolah-olah telah diketahui dan dipahami secara pasti—lawan dari mutasyābih. Lafal taḥākama atau muḥākamah berarti mengadukan perkara mereka kepada hakim yang keluar dari jalan lurus/pembangkang untuk memutuskan perkara mereka.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto