اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ
Innal-munāfiqīna fid-darkil-asfali minan-nār(i), wa lan tajida lahum naṣīrā(n).
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.
Ketahuilah wahai Muhammad dan orang-orang yang beriman, bahwa sungguh, orang-orang munafik itu di akhirat kelak ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah, paling rendah, dan paling hina dari neraka. Dan kamu, wahai Muhammad dan siapa pun, sama sekali tidak akan mendapat seorang penolong pun yang dapat memberikan pertolongan bagi mereka dari azab neraka itu.
Orang-orang munafik diperingatkan, bahwa mereka akan disiksa di neraka pada tingkatan yang paling bawah, karena perbuatan mereka dipandang perbuatan yang paling jahat, di dalam diri mereka bersemi kekafiran dan kemunafikan. Mereka menipu Rasulullah dan orang-orang mukmin. Maka siksaan yang paling pantas bagi mereka ialah neraka yang paling bawah tingkatannya. Mereka tidak akan mendapatkan penolong yang dapat menyelamatkan ataupun meringankan siksaan yang akan mereka terima.
Sulṭānan سُلْطَانًا (an-Nisā’/4: 144)
Sulṭān adalah argumentasi dan bukti-bukti, alasan-alasan yang nyata. Asal kata ini adalah as-sulṭah ( السلطة ) yang menunjukkan pada arti kekuasaan (tamakkun min al-qahr). Hujah atau argumentasi dinamakan sulṭān karena argumentasi mampu menguasai hati orang yang diberi argumentasi tersebut. Pada umumnya sulṭān atau hujah ini diberikan kepada mereka yang diberi ilmu dan hikmah (ar-Rāgib). Dalam ayat 144 di atas dinyatakan bahwa Allah melarang orang yang beriman untuk menjadikan dan mengambil orang kafir sebagai auliyā’ dan teman akrab tempat menyimpan rahasia, tempat mengadu dan curah hati, serta pembela dan pendukung. Kemudian dinyatakan kepada orang-orang mukmin maukah mereka membuat alasan dan argumentasi yang nyata bagi Allah untuk menyiksa mereka atau bukti yang jelas bahwa mereka benar-benar bukan orang yang beriman. Pernyataan semacam itu sudah pasti tidak sejalan dan bertentangan dengan keimanan kaum Muslimin dan juga tidak sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Sebab, mengambil orang kafir sebagai teman sama saja dengan memberi hujah, alasan dan bukti kepada Allah untuk menyiksa mereka.













































