Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 146 - Surat An-Nisā' (Perempuan)
النّساۤء
Ayat 146 / 176 •  Surat 4 / 114 •  Halaman 101 •  Quarter Hizb 10.75 •  Juz 5 •  Manzil 1 • Madaniyah

اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللّٰهِ وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۗ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا

Illal-lażīna tābū wa aṣlaḥū wa‘taṣamū billāhi wa akhlaṣū dīnahum lillāhi fa ulā'ika ma‘al-mu'minīn(a), wa saufa yu'tillāhul mu'minīna ajran ‘aẓīmā(n).

Kecuali, orang-orang yang bertobat, memperbaiki diri,176) berpegang teguh pada (agama) Allah, dan dengan ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah, mereka itu bersama orang-orang mukmin. Kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang mukmin.

Makna Surat An-Nisa' Ayat 146
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Orang-orang munafik yang terhindar dari tempat terendah dan terhina dari neraka Jahanam itu tidak lain kecuali orang-orang munafik yang bertobat, yang menyesali perbuatan mereka, meninggalkan kemunafikan, dan memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa dan kesalahan mereka, dan memperbaiki diri mereka dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa yang mereka lakukan sebelumnya dan kemudian meningkatkan amal-amal saleh, termasuk salat yang selama dilakukannya dengan malas dan pamrih, berpegang teguh pada agama Allah dan dengan tulus ikhlas menjalankan agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dengan keimanan yang mantap di dalam surga dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman dan juga kepada orang-orang munafik yang telah bertobat akan memperoleh ganjaran serupa.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Orang-orang munafik masih diberi kesempatan untuk bertobat selama ajal mereka belum tiba, asal mereka betul-betul menyesali perbuatan mereka atas dasar kesadaran yang keluar dari hati nurani mereka, dan memperbaiki perbuatan mereka dengan melakukan amal saleh dan berpegang teguh pada tuntunan Ilahi.

Dengan kata lain, ancaman Tuhan yang sangat keras itu tidak akan menimpa mereka, apabila mereka bertobat dan menyesali perbuatannya, kemudian melakukan perbuatan-perbuatan sebagai berikut:

1. Mereka betul-betul berusaha untuk melakukan amal saleh yang dapat menghilangkan noda kemunafikannya dengan selalu bersifat jujur, baik dalam berkata maupun dalam berbuat, dapat dipercaya, memenuhi janji, ikhlas terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan tetap melakukan salat dengan khusyuk serta tekun, baik di hadapan orang maupun pada waktu sendiri-sendiri.

2. Berpega ng teguh kepada ajaran Allah, yaitu meniatkan tobat dan amal saleh kepada keridaan Allah serta berpegang teguh pada Al-Qur’an, berakhlak mulia serta berperangai baik sesuai dengan ajaran Al-Qur’an, menjalani semua perintah dan menjauhi segala larangan Allah.

3. Mengikhlaskan diri kepada Allah yaitu memohon pertolongan hanya kepada-Nya, baik pada waktu senang atau dalam keadaan susah.

Apabila mereka melakukan ketentuan-ketentuan tersebut, maka Allah berjanji akan memasukkan mereka ke dalam barisan orang-orang mukmin di hari kiamat, karena mereka telah beriman, dan beramal seperti orang-orang mukmin, bahkan mereka itu akan diberi pahala seperti pahala yang diterima oleh orang-orang mukmin.

Isi Kandungan Kosakata

Sulṭānan سُلْطَانًا (an-Nisā’/4: 144)

Sulṭān adalah argumentasi dan bukti-bukti, alasan-alasan yang nyata. Asal kata ini adalah as-sulṭah ( السلطة ) yang menunjukkan pada arti kekuasaan (tamakkun min al-qahr). Hujah atau argumentasi dinamakan sulṭān karena argumentasi mampu menguasai hati orang yang diberi argumentasi tersebut. Pada umumnya sulṭān atau hujah ini diberikan kepada mereka yang diberi ilmu dan hikmah (ar-Rāgib). Dalam ayat 144 di atas dinyatakan bahwa Allah melarang orang yang beriman untuk menjadikan dan mengambil orang kafir sebagai auliyā’ dan teman akrab tempat menyimpan rahasia, tempat mengadu dan curah hati, serta pembela dan pendukung. Kemudian dinyatakan kepada orang-orang mukmin maukah mereka membuat alasan dan argumentasi yang nyata bagi Allah untuk menyiksa mereka atau bukti yang jelas bahwa mereka benar-benar bukan orang yang beriman. Pernyataan semacam itu sudah pasti tidak sejalan dan bertentangan dengan keimanan kaum Muslimin dan juga tidak sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Sebab, mengambil orang kafir sebagai teman sama saja dengan memberi hujah, alasan dan bukti kepada Allah untuk menyiksa mereka.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto