Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 47 - Surat An-Nisā' (Perempuan)
النّساۤء
Ayat 47 / 176 •  Surat 4 / 114 •  Halaman 86 •  Quarter Hizb 9.25 •  Juz 5 •  Manzil 1 • Madaniyah

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اٰمِنُوْا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّطْمِسَ وُجُوْهًا فَنَرُدَّهَا عَلٰٓى اَدْبَارِهَآ اَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّآ اَصْحٰبَ السَّبْتِ ۗ وَكَانَ اَمْرُ اللّٰهِ مَفْعُوْلًا

Yā ayyuhal-lażīna ūtul-kitāba āminū bimā nazzalnā muṣaddiqal limā ma‘akum min qabli an naṭmisa wujūhan fa naruddahā ‘alā adbārihā au nal‘anahum kamā la‘annā aṣḥābas-sabt(i), wa kāna amrullāhi maf‘ūlā(n).

Wahai orang-orang yang telah diberi Kitab, berimanlah pada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada padamu sebelum Kami mengubah wajah-wajah(-mu), lalu Kami putar ke belakang (sebagai penghinaan) atau Kami laknat mereka sebagaimana Kami melaknat orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabat (Sabtu). Ketetapan Allah (pasti) berlaku.

Makna Surat An-Nisa' Ayat 47
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Usai melaknat orang-orang Yahudi, pada ayat ini Allah menakut-nakuti mereka dengan siksaan yang langsung dirasakan. Wahai orang-orang yang telah diberi Kitab secara utuh! Berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan, yakni Al-Qur’an, yang kandungan pokoknya membenarkan Kitab yang ada pada kamu yaitu Taurat, yang disampaikan secara utuh kepada kalian oleh Nabi Musa. Oleh sebab itu, berimanlah kamu sebelum Kami mengubah wajah-wajah-mu, lalu Kami putar ke belakang, atau Kami kembalikan kamu ke jalan kesesatan, atau Kami akan laknat mereka sebagaimana Kami melaknat orang-orang yang berbuat maksiat pada hari Sabat (Sabtu) pada masa lampau. Dan ketetapan Allah itu pasti berlaku.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Orang Yahudi yang pernah menerima Kitab Taurat dan orang Nasrani yang pernah menerima Kitab Injil, dalam ayat ini diperintahkan agar mereka percaya kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang membenarkan isi kedua kitab mereka. Di antara pokok-pokok isi Al-Qur’an adalah mengenai keesaan Allah, menjauhi perbuatan syirik dan memperkuat iman dengan memperbanyak amal saleh dan meninggalkan perbuatan-perbuatan keji, lahir dan batin. Tiga soal utama itu adalah tiang agama yang diperintahkan Allah untuk dilakukan oleh hamba-Nya. Perintah mempercayai Al-Qur’an harus diterima dengan positif oleh mereka agar Allah tidak mengubah wajah mereka, membalikkan muka mereka ke belakang dan mengutuk mereka sebagaimana nenek moyang mereka pernah dikutuk karena menangkap ikan pada hari yang terlarang, hari Sabat. Ketentuan-ketentuan Allah baik berupa penciptaan sesuatu maupun berupa pelaksanaan hukum atau ancaman, semua pasti akan terlaksana sebagaimana dikehendaki-Nya.

Sebagian mufasir memahami pengertian hukuman Allah berupa penghapusan mereka adalah membalikkan arah muka mereka dari menghadap jalan lurus ke arah jalan kesesatan.

Setelah turun ayat ini, banyak di antara Ahli Kitab yang masuk Islam karena takut kepada ancaman siksa itu. Di antara mereka itu ialah: Ka’ab Al-Ahbar. Allah yang bersifat Mahakuasa tidak akan menghadapi kesukaran sedikit pun dalam melaksanakan kudrat-iradat-Nya, termasuk pelaksanaan ancaman-Nya dalam ayat ini.

Isi Kandungan Kosakata

Aṣḥābus-Sabt اَصْحَابُ السَّبْتِ (an-Nisā’/4: 47)

Di dalam Al-Qur’an kata Sabt terdapat dalam al-Baqarah/2:65, an-Nisā’/4:47, 154 dan al-A‘rāf/7:163 dan an-Naḥl/16:24; Sabtihim dan yasbitun (al-A‘rāf/7:163) tidak banyak diceritakan atau dibicarakan secara khusus, karena memang tak banyak hubungannya dengan akidah dan ajaran Islam umumnya.

Sabt (السبت) asal katanya berarti memutuskan kerja seperti sabata as-sa’ya berarti memutuskan perjalanan, sabata sya’rahu berarti memotong rambutnya. Pendapat lain mengatakan, dinamakan hari Sabtu karena Allah mulai menciptakan langit dan bumi hari Ahad. Allah menciptakannya selama enam hari, Allah menghentikan kerja-Nya hari Sabtu, maka hari itu dinamakan hari Sabtu.

Dalam beberapa tafsir disebutkan bahwa hukuman bagi mereka yang melanggar hari Sabat menurut syariat Yahudi ialah hukuman mati (Keluaran 31:14). Di dalam sebuah hikayat Yahudi tentang masyarakat nelayan di pesisir kota, yang terus-menerus melanggar hari Sabat, mereka berubah menjadi kera (al-A‘rāf/7:163-166). Hukumannya adalah bukan karena melanggar hari Sabat itu saja, tetapi karena membangkang dan melanggar hukum Taurat”. Mereka melanggar hari Sabat dengan membuat kolam di dekat laut dengan saluran-saluran ke kolam itu. Bila sudah banyak ikan yang masuk ke dalamnya mereka mengambilnya pada hari Ahad. Membendung ikan ke dalam kolam itulah pelanggaran mereka. Maka jadilah mereka kera yang hina. Beberapa mufasir mengatakan, bahwa demikian terjadi metamorfisme, mereka berubah menjadi kera. Tetapi Mujahid berpendapat bahwa metamorfisme itu terjadi pada hati mereka, sifat dan watak mereka (al-Qasimi).

Kaum Sabat dalam Kejadian 2.3-4 disebutkan, bahwa Tuhan memberkati hari ketujuh itu, karena pada hari itu “Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan… Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan.” “Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan …” (Ulangan 5. 12-15).

Kalangan Nasrani yang mula-mula masih berpegang pada hari Sabat ini, yang kemudian merupakan salah satu perubahan dari hari pekan ketujuh (Sabtu) menjadi hari pertama (Minggu). Sampai selama sekian tahun kedua hari pekan ketujuh dan pertama itu tetap dipertahankan sebagai hari-hari Sabat, dan lambat laun berangsur-angsur hari pekan pertama itu diterima menjadi Hari Tuhan (Lord’s Day).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto