Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 48 - Surat An-Nisā' (Perempuan)
النّساۤء
Ayat 48 / 176 •  Surat 4 / 114 •  Halaman 86 •  Quarter Hizb 9.25 •  Juz 5 •  Manzil 1 • Madaniyah

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا

Innallāha lā yagfiru ay yusyraka bihī wa yagfiru mā dūna żālika limay yasyā'(u), wa may yusyrik billāhi fa qadiftarā iṡman ‘aẓīmā(n).

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar.

Makna Surat An-Nisa' Ayat 48
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Boleh jadi karena orang-orang Yahudi merasa sebagai umat pilihan Tuhan, sehingga mereka beranggapan kalaupun mereka membuat kedurhakaan pasti akan diampuni oleh Allah, maka dalam ayat ini mereka diperingatkan dengan keras bahwa hal itu tidak akan terjadi. Sesungguhnya Allah Yang Mahaperkasa tidak akan pernah mengampuni dosa karena mempersekutukan-Nya, yakni dosa syirik, dan Dia mengampuni apa, yakni dosa, yang selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah dengan yang lain, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar dan menganiaya diri sendiri.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah sekali-kali tidak akan mengampuni perbuatan syirik yang dilakukan oleh hamba-Nya, kecuali apabila mereka bertobat sebelum mati. Syirik adalah dosa yang paling besar, karena orang musyrik beriktikad dan mempercayai bahwa Allah mempunyai sekutu dan tandingan yang sama derajatnya.

Dalam Al-Qur’an disebutkan berulang-ulang dosa syirik ini. Adapun dosa selain syirik, jika dikehendaki, Allah akan mengampuninya. Hal itu disesuaikan dengan hikmah kebijaksanaan-Nya dan menurut tata cara sunah-Nya yang berlaku. Misalnya yang berdosa itu benar-benar telah tobat dari dosanya dan mengiringi tobat itu dengan amal-amal saleh. Allah berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا ٤٨

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (an-Nisā’/4:48).

اِن َهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ ٧٢

“ …Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu”. (al-Mā’idah/5:72).

Isi Kandungan Kosakata

Aṣḥābus-Sabt اَصْحَابُ السَّبْتِ (an-Nisā’/4: 47)

Di dalam Al-Qur’an kata Sabt terdapat dalam al-Baqarah/2:65, an-Nisā’/4:47, 154 dan al-A‘rāf/7:163 dan an-Naḥl/16:24; Sabtihim dan yasbitun (al-A‘rāf/7:163) tidak banyak diceritakan atau dibicarakan secara khusus, karena memang tak banyak hubungannya dengan akidah dan ajaran Islam umumnya.

Sabt (السبت) asal katanya berarti memutuskan kerja seperti sabata as-sa’ya berarti memutuskan perjalanan, sabata sya’rahu berarti memotong rambutnya. Pendapat lain mengatakan, dinamakan hari Sabtu karena Allah mulai menciptakan langit dan bumi hari Ahad. Allah menciptakannya selama enam hari, Allah menghentikan kerja-Nya hari Sabtu, maka hari itu dinamakan hari Sabtu.

Dalam beberapa tafsir disebutkan bahwa hukuman bagi mereka yang melanggar hari Sabat menurut syariat Yahudi ialah hukuman mati (Keluaran 31:14). Di dalam sebuah hikayat Yahudi tentang masyarakat nelayan di pesisir kota, yang terus-menerus melanggar hari Sabat, mereka berubah menjadi kera (al-A‘rāf/7:163-166). Hukumannya adalah bukan karena melanggar hari Sabat itu saja, tetapi karena membangkang dan melanggar hukum Taurat”. Mereka melanggar hari Sabat dengan membuat kolam di dekat laut dengan saluran-saluran ke kolam itu. Bila sudah banyak ikan yang masuk ke dalamnya mereka mengambilnya pada hari Ahad. Membendung ikan ke dalam kolam itulah pelanggaran mereka. Maka jadilah mereka kera yang hina. Beberapa mufasir mengatakan, bahwa demikian terjadi metamorfisme, mereka berubah menjadi kera. Tetapi Mujahid berpendapat bahwa metamorfisme itu terjadi pada hati mereka, sifat dan watak mereka (al-Qasimi).

Kaum Sabat dalam Kejadian 2.3-4 disebutkan, bahwa Tuhan memberkati hari ketujuh itu, karena pada hari itu “Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan… Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan.” “Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan …” (Ulangan 5. 12-15).

Kalangan Nasrani yang mula-mula masih berpegang pada hari Sabat ini, yang kemudian merupakan salah satu perubahan dari hari pekan ketujuh (Sabtu) menjadi hari pertama (Minggu). Sampai selama sekian tahun kedua hari pekan ketujuh dan pertama itu tetap dipertahankan sebagai hari-hari Sabat, dan lambat laun berangsur-angsur hari pekan pertama itu diterima menjadi Hari Tuhan (Lord’s Day).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto