Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 49 - Surat An-Nisā' (Perempuan)
النّساۤء
Ayat 49 / 176 •  Surat 4 / 114 •  Halaman 86 •  Quarter Hizb 9.25 •  Juz 5 •  Manzil 1 • Madaniyah

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ يُزَكُّوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۗ بَلِ اللّٰهُ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُ وَلَا يُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا

Alam tara ilal-lażīna yuzakkūna anfusahum, balillāhu yuzakkī may yasyā'u wa lā yuẓlamūna fatīlā(n).

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.

Makna Surat An-Nisa' Ayat 49
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Perilaku kaum Yahudi sungguh aneh, mereka mengaku mendapat petunjuk dan merasa sebagai umat pilihan Allah, tetapi mereka justru durhaka. Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci, yakni orang Yahudi? Sebenarnya Allah Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana yang berhak menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka yang disucikan itu tidak dizalimi sedikit pun.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Hasan, bahwa ayat ini diturunkan mengenai orang-orang Yahudi dan Nasrani yang memuji-muji diri mereka dengan mengatakan bahwa mereka anak Allah dan kesayangan-Nya, tidak akan masuk surga selain orang Yahudi atau Nasrani dan mereka tidak akan masuk neraka kecuali beberapa hari saja.

Allah memperingatkan Nabi Muhammad saw agar berhati-hati terhadap tindakan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menganggap dan mengakui diri mereka sebagai orang suci. Pengakuan itu seperti tertera pada sebab turunnya ayat di atas bahwa ucapan mereka itu tidak benar karena mereka masih tetap dalam kekafiran dan tetap melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah.

Sebenarnya mereka tidak berhak membersihkan diri hanya dengan kata-kata dan pengakuan yang tidak beralasan. Membersihkan diri haruslah dengan amal perbuatan yang dapat menjadikan seseorang bersih dan bebas dari perbuatan syirik dan maksiat. Tidak ada gunanya seseorang mengemukakan kebersihan dirinya karena kebersihan diri seseorang berada di tangan Allah Yang Mahakuasa, dan Allah sekali-kali tidak akan menganiaya hamba-Nya.

Isi Kandungan Kosakata

Aṣḥābus-Sabt اَصْحَابُ السَّبْتِ (an-Nisā’/4: 47)

Di dalam Al-Qur’an kata Sabt terdapat dalam al-Baqarah/2:65, an-Nisā’/4:47, 154 dan al-A‘rāf/7:163 dan an-Naḥl/16:24; Sabtihim dan yasbitun (al-A‘rāf/7:163) tidak banyak diceritakan atau dibicarakan secara khusus, karena memang tak banyak hubungannya dengan akidah dan ajaran Islam umumnya.

Sabt (السبت) asal katanya berarti memutuskan kerja seperti sabata as-sa’ya berarti memutuskan perjalanan, sabata sya’rahu berarti memotong rambutnya. Pendapat lain mengatakan, dinamakan hari Sabtu karena Allah mulai menciptakan langit dan bumi hari Ahad. Allah menciptakannya selama enam hari, Allah menghentikan kerja-Nya hari Sabtu, maka hari itu dinamakan hari Sabtu.

Dalam beberapa tafsir disebutkan bahwa hukuman bagi mereka yang melanggar hari Sabat menurut syariat Yahudi ialah hukuman mati (Keluaran 31:14). Di dalam sebuah hikayat Yahudi tentang masyarakat nelayan di pesisir kota, yang terus-menerus melanggar hari Sabat, mereka berubah menjadi kera (al-A‘rāf/7:163-166). Hukumannya adalah bukan karena melanggar hari Sabat itu saja, tetapi karena membangkang dan melanggar hukum Taurat”. Mereka melanggar hari Sabat dengan membuat kolam di dekat laut dengan saluran-saluran ke kolam itu. Bila sudah banyak ikan yang masuk ke dalamnya mereka mengambilnya pada hari Ahad. Membendung ikan ke dalam kolam itulah pelanggaran mereka. Maka jadilah mereka kera yang hina. Beberapa mufasir mengatakan, bahwa demikian terjadi metamorfisme, mereka berubah menjadi kera. Tetapi Mujahid berpendapat bahwa metamorfisme itu terjadi pada hati mereka, sifat dan watak mereka (al-Qasimi).

Kaum Sabat dalam Kejadian 2.3-4 disebutkan, bahwa Tuhan memberkati hari ketujuh itu, karena pada hari itu “Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan… Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan.” “Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan …” (Ulangan 5. 12-15).

Kalangan Nasrani yang mula-mula masih berpegang pada hari Sabat ini, yang kemudian merupakan salah satu perubahan dari hari pekan ketujuh (Sabtu) menjadi hari pertama (Minggu). Sampai selama sekian tahun kedua hari pekan ketujuh dan pertama itu tetap dipertahankan sebagai hari-hari Sabat, dan lambat laun berangsur-angsur hari pekan pertama itu diterima menjadi Hari Tuhan (Lord’s Day).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto