فَاِنْ لَّمْ تَجِدُوْا فِيْهَآ اَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوْهَا حَتّٰى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَاِنْ قِيْلَ لَكُمُ ارْجِعُوْا فَارْجِعُوْا هُوَ اَزْكٰى لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ
Fa illam tajidū fīhā aḥadan falā tadkhulūhā ḥattā yu'żana lakum wa in qīla lakumurji‘ū farji‘ū huwa azkā lakum, wallāhu bimā ta‘malūna ‘alīm(un).
Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, janganlah masuk sebelum mendapat izin. Jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah,” (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, yaitu jika di dalam rumah yang kamu kunjungi itu tidak ada orang sama sekali atau tidak ada yang berwenang mengizinkan atau melarang kamu masuk, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan oleh penghuni rumah kepadamu, “Kembalilah!” maka hendaklah kamu kembali dan tidak bersikeras meminta izin. Yang demikian itu lebih suci bagimu karena menjauhkan kamu dari prasangka negatif. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan Dia pun akan membalasnya.
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa apabila hendak memasuki rumah orang lain dan tidak menemukan seorang di dalamnya yang berhak memberi izin atau tidak ada penghuninya, janganlah sekali-kali me-masukinya, sebelum ada izin, kecuali ada hal yang mendesak seperti ada kebakaran di dalamnya, yang mengkhawatirkan akan menjalar ke tempat lain, atau untuk mencegah suatu perbuatan jahat yang akan terjadi di dalamnya, maka bolehlah memasukinya meskipun tidak ada izin. Tetapi kalau orang yang berhak memberi izin untuk masuk, menganjurkan supaya pulang, karena ada hal-hal di dalam rumah yang oleh pemilik rumah merasa malu dilihat orang lain, maka ia harus pulang karena yang demikian itu lebih menjamin keselamatan bersama. Allah Maha Mengetahui isi hati dan niat yang terkandung di dalamnya.
Tasta’nisū تَسْتَأْنِسُوْ ا (an-Nūr/23: 27)
Artinya: kamu meminta izin. Kalimat ini bentuk muḍari’ dari ista’nasa. Akar katanya adalah ( أ ـ ن ـ س ) yang artinya damai, tenang, lawan dari nufūr atau resah, tidak tenang, lari dan lain sebagainya. Dari akar kata ini muncul kata insan atau manusia karena manusia adalah makhluk yang gampang damai jika bertemu dengan sesamanya, atau makhluk yang tidak bisa hidup sendirian, tapi harus hidup dengan lainnya. Dari arti kata diatas maka ungkapan tasta’nisu lebih tepat diartikan: sehingga kamu mendapatkan kedamaian atau ketenangan dari tuan rumah yang kamu kunjungi. Seseorang yang mendapatkan izin dari tuan rumah belum pasti tuan rumah tersebut menyukai kedatangannya karena beberapa hal. Namun jika tuan rumah dari sikap dan suaranya menunjukkan arti kedamaian maka sikap ini melebihi dari sekedar mengizinkan. Artinya kata tasta’nisu lebih jauh jangkauannya dan luas pengertiannya dari tasta’ẓinu.











































