Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 62 - Surat An-Nūr (Cahaya)
النّور
Ayat 62 / 64 •  Surat 24 / 114 •  Halaman 359 •  Quarter Hizb 36.5 •  Juz 18 •  Manzil 4 • Madaniyah

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاِذَا كَانُوْا مَعَهٗ عَلٰٓى اَمْرٍ جَامِعٍ لَّمْ يَذْهَبُوْا حَتّٰى يَسْتَأْذِنُوْهُۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَأْذِنُوْنَكَ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ فَاِذَا اسْتَأْذَنُوْكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِّمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Innamal-mu'minūnal-lażīna āmanū billāhi wa rasūlihī wa iżā kānū ma‘ahū ‘alā amrin jāmi‘il lam yażhabū ḥattā yasta'żinūh(u), innal-lażīna yasta'żinūnaka ulā'ikal-lażīna yu'minūna billāhi wa rasūlih(ī), fa iżasta'żanūka liba‘ḍi sya'nihim fa'żal liman syi'ta minhum wastagfir lahumullāh(a), innallāha gafūrur raḥīm(un).

(Yang disebut) orang-orang (yang benar-benar) mukmin hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad), dan apabila mereka berada bersama-sama dengan dia (Nabi Muhammad) dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Makna Surat An-Nur Ayat 62
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Setelah menjelaskan izin dan etika pertemuan, kini Allah meng-uraikan etika perpisahan. Orang mukmin sejati adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad, dan apabila mereka berada bersama-sama dengan beliau dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan beliau sebelum meminta izin kepadanya lalu diizinkan olehnya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu, wahai Nabi Muhammad, dalam urusan penting, mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka dan tidak mengapa jika engkau tidak memberi izin sesuai maslahat yang engkau perhitungkan, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah atas kepergian mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun kepada orang-orang yang engkau mintakan ampunan untuknya, Maha Penyayang kepada mereka yang engkau mintakan rahmat untuknya. Demikian mulia kedudukan Nabi sehingga para sahabat harus meminta izin apabila hendak meninggalkan majelis beliau.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ialah orang-orang yang bila berada bersama Rasulullah untuk membicarakan suatu hal yang penting mengenai urusan kaum muslim, mereka tidak mau meninggalkan pertemuan itu sebelum mendapatkan izin dari Rasulullah. Setelah mendapat izin barulah mereka meninggalkan pertemuan itu dan memberi salam kepada para hadirin yang masih tinggal bersama Rasulullah.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِذَا اِنْتَهَى اَحَدُكُمْ اِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَاِنْ بَدَا لَهُ اَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ. ثُمَّ اِذَا قَامَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ اْلاُوْلَى بِأَحَقَّ مِنَ اْلا خِرَةِ. (رواه احمد وابو داود وابن حبان)

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah, beliau bersabda, “Bila salah seorang di antara kamu telah sampai ke suatu majlis, hendaklah ia memberi salam. Bila ia hendak duduk, maka duduklah. Kemudian bila hendak pergi, hendaklah memberi salam. Orang yang dahulu tidak lebih berhak dari yang belakangan. (Riwayat Aḥmad, Abu Dāud, Ibnu Ḥibbān dan al-Ḥākim)

Orang-orang yang sifat tingkah lakunya seperti itu, itulah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Allah memerintahkan kepada Rasulullah, bila ada seseorang yang memajukan permohonan untuk meninggalkan suatu pertemuan bersama Rasululah, maka Rasulullah berhak sepenuhnya untuk menerima permohonan itu atau menolaknya sesuai dengan keadaan orang yang meminta izin itu dan untuk keperluan apa dia meninggalkan sidang itu.

Pernah Umar bin al-Khaṭṭāb meminta izin kepada Rasulullah kembali ke Medinah untuk menemui keluarganya dalam suatu perjalanan bersama-sama sahabat lainnya menuju Tabuk, maka Rasulullah memberi izin kepada Umar dan berkata kepadanya. Kembalilah! Engkau bukanlah seorang munafik. Rasulullah diperintahkan pula setelah memberi izin kepada orang yang memohonkannya agar ia meminta ampun kepada Allah untuk orang-orang meminta izin itu. Ini adalah satu isyarat bahwa meminta izin itu meskipun dibolehkan meninggalkan pertemuan dengan Rasulullah, namun Rasulullah disuruh meminta ampunan kepada Allah bagi orang itu. Hal ini menunjukkan, bahwa permintaan izin dan meninggalkan pertemuan itu adalah suatu hal yang tidak layak atau tercela. Seakan-akan orang itu lebih mengutamakan kepentingan pribadinya sendiri daripada kepentingan bersama di hadapan Rasulullah. Demikian salah satu di antara adab sopan santun dalam bergaul dengan Rasulullah saw. Rasulullah adalah seorang Rasul yang dimuliakan Allah, karena itu tidak layak seorang muslim memperlakukannya seperti kepada pemimpin lainnya yang mungkin saja mempunyai kesalahan dan kekhilafan.

Isi Kandungan Kosakata

1. Yatasallalūna يَتَسَلَّلُوْن َ (an-Nūr/24: 63)

Kata yatasallalūna adalah fi’il muḍāri’ dari kata tasallala. Kata ini terambil dari kata salla-yasullu-sallan yang memiki akar makna mencabut dan mengeluarkan sesuatu dengan pelan-pelan. Kata saifun maslūlun berarti pedang yang dicabut dari sarungnya. Penggunaan kata ini mengandung unsur balagah yang tinggi, karena kata ini menggambarkan keluarnya satu kaum dari sebuah perkumpulan tanpa dirasakan oleh orang lain, sama seperti tercabutnya rambut yang berada di dalam adonan.

2. Liwāẓā لِوَاذًا (an-Nūr/24: 63)

Kata liwāẓā adalah maṣdar (kata jadian) dari kata lāwaẓa-yulāwiẓu-liwā an. Ia terambil dari kalimat lāẓa bi fulān yang berarti ia bersembunyi dan berlindung dengan fulan. Kalimat lāwaẓa al-qaumu berarti sebagian dari kaum itu bersembunyi dan berlindung sebagian dengan sebagian yang lain. Darinya terambil kata malāẓ yang berarti benteng tempat berlindung. Makna inilah yang dimaksud di dalam ayat yang sedang dibahas ini. Maksudnya, mereka meninggalkan Rasulullah sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh Rasulullah. Tetapi, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa maknanya adalah khilaf (perselisihan), sebagaimana pendapat yang diriwayatkan dari Mujāhid.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto