خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
Khalaqal-insāna min ṣalṣālin kal-fakhkhār(i).
Dia telah menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.
Setelah menjelaskan penciptaan langit dan bumi seisinya, Allah menjelaskan penciptaan manusia dan jin. Dia menciptakan jenis manusia dari tanah kering seperti tembikar,
Ayat ini menerangkan bahwa Allah menciptakan manusia pertama Nabi Adam dari tanah kering seperti tembikar, dan keras seperti tanah yang telah dipanggang.
Di dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan yang lain menyebutkan bahwa ia diciptakan dari ta-nah liat serta di sini disebutkan tanah kering seperti tembikar. Tanah liat yang dipanggang dengan bara yang panas untuk menjaga ia tetap bersatu, tidak bercerai berai.
Demikian pula manusia mempunyai nafsu makan dan minum, mempunyai nafsu kawin agar badannya dapat terpelihara dan dapat melanjutkan hidupnya, serta mempunyai keturunan. Ia mempunyai nafsu marah yang menjadikannya berani dan kuat untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan mempertahankan dirinya dari bahaya yang mengancamnya serta serbuan musuh-musuh yang berada di sekitarnya.
Kekuatan manusia ini seolah-olah sama dengan tanah liat yang telah masak agar menjadi tanah kering yang bagian-bagiannya melekat dengan kuat. Apabila tidak ada hal-hal itu tentu dia tidak akan dapat mempertahankan dirinya dari bahaya dan musuh-musuhnya, dari manusia lain atau binatang-binatang buas, maka ia akan hancur berkeping-keping menjadi santapan burung-burung dan binatang-binatang, sebagaimana tanah yang belum dimasak bertaburan diterbangkan angin.
Penciptaan manusia dari tanah telah banyak dibicarakan pada ayat-ayat sebelumnya, antara lain pada ayat-ayat: al-Ḥijr/15: 26 (dari lumpur hitam), al- Ḥijr/15: 28 (tanah liat kering), ar-Rūm/30: 20 (dari tanah), Fāṭir/35: 11 (dari tanah), Ṣād/38: 71 (tanah liat), Gāfir/40 (dari tanah), sedangkan pada Surah al-Furqān/25: ayat 54 dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari air. Dari berbagai pernyataan ayat-ayat di atas tentang bahan penciptaan manusia, maka terdapat dua bahan yaitu air dan tanah. Sedangkan macam tanah yang sering dijelaskan adalah tanah liat, suatu jenis tanah yang tersusun oleh partikel yang sangat halus, dengan ukuran diameter partikel kurang dari 2 mikron. Jenis tanah ini memiliki sifat-sifat fisik yang plastis bila mengandung air. Secara kimia, larutan tanah liat dalam air memiliki kapasitas tukar kation, yaitu dapat mengikat ion atau senyawa kimia lainnya yang bermuatan listrik, tetapi dengan ikatan yang tidak terlalu kuat sehingga ion yang terikat bisa berganti-ganti dengan mudah. Tanah jenis ini pulalah yang biasa dipakai sebagai bahan untuk membuat tembikar. Sementara proses penciptaannya amat sedikit diketahui (lihat Tafsir al-Ḥijr/15: 26 dan 28).
1. Ṣalṣāl صَلْصَال (ar-Raḥmān/55:14)
Berart i tanah liat yang dapat dibuat belanga (pot), diambil dari fi‘il ṣalṣala yang berarti berbunyi.
Kata ṣalṣāl dalam ayat 14 Surah ar-Raḥmān tersebut adalah berarti tanah kering yang bila diketuk akan terdengar berbunyi.
Al-Qur’an menyebut berbagai materi ciptaan manusia, antara lain adalah dengan kata ṣalṣal berarti tanah kering. Kadang-kadang dinyatakan dari nuṭfah berarti sperma, pada kali lain dari turāb berarti tanah. Ada juga disebutkan dari mā' berarti air, atau ṭīn bermakna tanah yang basah, atau dengan ḥama'in masnūn yang berarti lumpur hitam. Ayat-ayat tersebut tidak bertentangan antara satu dengan lainnya, karena masing-masing berbicara tentang salah satu periode dari proses penciptaan manusia. Dapat dikatakan penciptaan manusia bermula dari tanah, lalu tanah itu dicampur dengan air, sehingga menjadi tanah yang basah, lalu dibiarkan beberapa saat, sehingga menjadi lumpur hitam, lalu itu dibentuk sesuai yang dikehendaki dan dikeringkan, sehingga ia menjadi tanah kering seperti tembikar. Ini tentu yang dimaksudkan adalah proses keja-dian Nabi Adam kakek dari semua manusia. Sedangkan semua manusia setelah Nabi Adam adalah diciptakan dari sperma dan ovum yang kemudian menjadi nuṭfah dan seterusnya hingga menjadi janin yang akan lahir sebagai manusia. Kecuali Hawa istri Nabi Adam, Nenek dari semua manusia, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang asal penciptaannya. Jumhur ulama mengatakan, bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Sedangkan sebagian ulama mengatakan, bahwa Hawa diciptakan dari zat yang sama dengan zat penciptaan Nabi Adam.
2. Mārij مَارِجٌ (ar-Raḥmān/55: 15)
Kata mārij dan kata lain yang seasal dengannya disebut empat kali dalam Al-Qur’an, yaitu pada Surah al-Furqān/25: 53, Surah Qāf/50: 5 dan Surah ar-Raḥmān/55: 15 dan 19. Kata mārij pada dasarnya bermakna "bercampur" yakni sebuah siklus yang berjalan terus-menerus, datang dan pergi silih berganti. Misalnya ungkapan, marajal-khātim fīl-aṣābi' yang berarti cincin itu menyatu pada jari-jari. Begitu pula ungkapan marajtud-dābbah yang berarti keadaan ternak yang saya lepas di padang rumput, mereka bercampur antara satu dengan yang lain dan sulit dibedakan. Al-Qur’an menggunakan kata tersebut dalam dua arti:
a. Dengan makna bercampur/membaur, seperti dalam Surah al-Furqān/25: 53 dan ar-Raḥmān/55: 19. Allah membicarakan siklus dua macam air laut yang bercampur dan mengalir berdampingan. Pada hakikatnya keduanya berbeda sifat dan keadaannya sehingga terpisah antara air yang tawar dan air yang asin, karena ada pembatasnya. Demikian juga keadaan yang dialami oleh orang-orang yang mendustakan kebenaran, merasakan kehidupan yang dihadapinya merupakan percampurbauran antara kebaikan dan kebatilan, sehingga kehidupannya kacau balau. Ini disebut dalam Surah Qāf /50: 5.
b. Dengan makna campuran butiran-butiran bara api, seperti pada Surah ar-Raḥmān/55: 15, disebutkan bahwa Allah menciptakan jin dari nyala api mu-rni, yakni campuran butiran-butiran bara api.















































