فِيْهِمَا فَاكِهَةٌ وَّنَخْلٌ وَّرُمَّانٌۚ
Fīhimā fākihatuw wa nakhluw wa rummān(un).
Di dalam keduanya ada buah-buahan (antara lain) kurma dan delima.
Di dalam kedua surga itu juga ada buah-buahan, kurma, dan delima yang lezat dan manis.
Ayat ini menerangkan bahwa pada kedua surga tersebut terdapat buah-buahan yang beraneka ragam cita rasanya di antaranya kurma dan delima. Disebutkannya kurma dan delima walaupun keduanya termasuk ke dalam jenis buah-buahan, karena ada perbedaan dengan buah-buahan yang lain sebab keduanya terdapat pada musim gugur dan musim dingin. Di samping itu kurma adalah buah-buahan bergizi, dan delima dapat dijadikan obat. Maka nikmat Allah yang manakah yang didustakan oleh jin dan manusia?
1. Mudhāmmatāni مُدْهَامَّتَان ِ (ar-Raḥmān/55: 64)
Kata mudhāmmatāni merupakan bentuk dua (muṡanna) dari kata mudhāmmah. Kata ini sendiri terambil dari ad-duhmah, yang pada awalnya diartikan sebagai gelapnya malam. Selain itu, kata ini juga diberi makna sebagai hijau tua yang pekat sehingga sangat dekat dengan warna hitam. Kata mudhāmmatāni dipergunakan untuk memberikan sifat kepada banyak-nya pepo-honan yang sangat rimbun dengan dedaunan di surga. Karena itu suasana surga tampak menghijau pekat.
2. Naḍḍākhatāni نَضَّاخَتَانِ (ar-Raḥmān/55: 66)
Kata naḍḍākhatān merupakan bentuk dua (muṡanna) dari naḍḍākhah, yang artinya yang memancar. Kata ini dipergunakan untuk menggambarkan adanya dua mata air di surga yang selalu memancarkan air. Surga yang dipenuhi dengan pepohonan yang rimbun dengan dedaunan, ditambah adanya mata air yang selalu memancarkan air, merupakan pemandangan yang sangat indah dan tiada taranya. Keadaan seperti ini yang akan ditemukan oleh mereka yang mendapat balasan surga.
3.‘Abqariyy عَبْقَرِيّ (ar-Raḥmān/55: 76)
Kata ‘abqariyy berasal dari kata ‘abqar. Yang artinya sesuatu yang luar biasa. Pada masa dahulu, kata ‘abqar diartikan sebagai tempat permukiman para jin. Bangsa Arab pada masa itu juga mempercayai bahwa semua yang indah-indah atau yang tidak mampu dilakukan manusia adalah hasil karya jin. Dari kebiasaan ini, selanjutnya muncul pengertian bahwa segala sesuatu yang mencapai puncak keindahan dan keistimewaan disebut ‘abqariy. Orang jenius disebut ‘abqariy, karena ia memiliki kemampuan akal atau kecerdasan yang luar biasa. Kata ini disebut dalam ayat untuk menggambarkan keindahan surga dan isinya yang luar biasa.
















































