Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 165 - Surat Aṣ-Ṣāffāt (Barisan-Barisan)
الصّٰۤفّٰت
Ayat 165 / 182 •  Surat 37 / 114 •  Halaman 452 •  Quarter Hizb 46 •  Juz 23 •  Manzil 6 • Makkiyah

وَّاِنَّا لَنَحْنُ الصَّۤافُّوْنَۖ

Wa innā lanaḥnuṣ-ṣāffūn(a).

Sesungguhnya kamilah yang selalu teratur dalam barisan (dalam melaksanakan perintah Allah).

Makna Surat As-Saffat Ayat 165
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

dan sesungguhnya kami selalu teratur dalam barisan untuk melaksanakan perintah-Nya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Lebih jauh para malaikat itu menjelaskan bahwa mereka dalam menjalankan tugasnya berbaris-baris, yaitu selalu sigap melaksanakan tugasnya dan bekerjasama dalam kesatuan-kesatuan yang kuat. Dengan berbaris-baris seperti itu maka tugas dilaksanakan mereka dengan penuh semangat, gegap-gempita, dan sempurna, sehingga pelaksanaan tugas itu sukses secara maksimal tanpa ada yang kurang atau yang lebih. Pelaksanaan tugas secara serius itu memberikan petunjuk bahwa mereka sangat patuh kepada Allah dan menjalankan perintah-Nya.

Kepatuhan dan keseriusan malaikat menjalankan tugasnya itu perlu ditiru oleh kaum Muslimin. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim yang bersumber dari Jābir bin Samurah, ia mengatakan:

عَنْ جَابِر بْنِ سَمُرَةَ قاَلَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ نَحْنُ فِى الْمَسْجِدِ فَقَالَ: اَلَا تَصُفُّوْنَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا. فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، كَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ قَالَ: يُتِمُّوْنَ الصُّفُوْفَ اْلأُولَ وَيَتَرَاصُّوْ نَ فِى الصَّفِّ. (رواه مسلم)

Dari Jābir bin Samurah bahwa Rasulullah suatu ketika keluar menemui kami sedang kami berada di dalam masjid, lalu beliau bersabda, ‘Mengapa kalian tidak berbaris seperti malaikat berbaris di sisi Tuhannya?’ Lalu kami bertanya, ‘Ya, Rasulullah, bagaimana caranya malaikat-malaikat itu berbaris di sisi Tuhannya?’ Rasulullah bersabda, ‘Mereka mengisi sampai penuh barisan pertama dan merapatkannya.” (Riwayat Muslim)

Karena terinspirasi oleh ayat itu, Khalifah Umar bin Khaṭṭāb mengatur saf-saf sebelum mengimami salat. Dilaporkan oleh Abū Naḍrah:

كَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللّٰهُ اِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلَاةُ اِسْتَقْبَلَ النَّاسَ بِوَجْهِهِ ثُمَّ قَالَ : اَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ وَاسْتَوُوْا قِيَامًا يُرِيْدُ اللّٰهُ تَعَالَى بِكُمْ هديَ الْمَلَائِكَةِ ثُمَّ يَقُوْلُ: »وَاِنَّا لَنَحْنُ الصَّافُّوْنَ تَأَخَّرْ يَا فُلَان تَقَدَّمْ يَا فُلَان ثُمَّ يَتَقَدَّمُ فَيُكَبِّرُ.(رو اه ابن أبي حاتم وابن جرير)

Umar r.a. ketika iqamat dilantunkan, ia menghadap kepada jamaah dan berkata, “Atur saf-saf kalian, luruskan barisan kalian! Allah Ta‘ala ingin kalian mengikuti perilaku malaikat.” Kemudian ia membaca ayat: “wa innā lanaḥnu aṣ-Ṣāffūn” “Hai Fulan mundur, hai Fulan maju!” Setelah itu ia maju ke depan dan membaca takbir (mengimami salat). (Riwayat Ibnu Abī Ḥātim dan Ibnu Jarīr).

Isi Kandungan Kosakata

Maqām Ma‘lūm مَقَامٌ مَعْلُوْمٌ (aṣ-Ṣāffāt/37: 164)

Kata maqām berasal dari kata qāma yaqūmu yang berarti berdiri, antonim dari kata julūs (duduk). Maqām berarti tempat berdiri dua telapak kaki. Maqām juga berarti kedudukan, posisi, atau derajat. Kata ini juga diartikan dengan tempat atau lokasi. Maqām ma‘lūm artinya kedudukan yang tertentu sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Sang Maha Pencipta. Masing-masing tidak dapat melampaui batas ketentuan yang telah ditetapkan, karena itu setiap makhluk diciptakan hanya untuk taat dan beribadah kepada-Nya.

Kalimat maqām terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 14 kali, dua kali disandingkan dengan maqām karīm (ad-Dukhān/44: 26, asy-Syu‘arā'/26: 58), sekali dengan maqām amīn (ad-Dukhān/44: 21), dua kali dengan maqām Ibrāhīm (al-Baqarah/2: 125, Āli ‘Imrān/3: 97), sekali dengan maqām maḥmūd (al-Isrā'/17: 79), maqām ma‘lūm (aṣ-Ṣāffāt/37: 164) dan sisanya disandingkan dengan kata rabb dan ḍamīr.

Sedangkan kata ma‘lūm merupakan isim maf‘ūl dari akar kata ‘alima ya‘lamu yang berarti sifat mengetahui sesuatu. Allah memiliki sifat al-‘Alīm, al-‘Alām, al-‘Ālim yang kesemuanya menunjukkan kepada kemahatahuan Allah terhadap alam dan segala isinya. Kalimat yang tersusun dari huruf-huruf ‘ain, lam, dan mim menunjukkan kepada sesuatu objek yang jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. Manusia yang memiliki keahlian mengetahui ilmu agama dengan jelas disebut dengan alim atau ulama. Al-‘Alamah juga artinya tanda untuk mengetahui sesuatu, seperti bendera disebut juga ‘alam, bentuk jamaknya adalah ‘alām. Dalam Al-Qur’an ditemukan banyak sekali ayat-ayat yang menggunakan akar kata yang sama. Dari kata ini juga terbentuk kata al-‘ālam yang berarti semua jenis makhluk yang ada di alam semesta ini atau sesuatu selain Zat Allah. Disebut ‘alam sebagai tanda bagi manusia dalam memahami kebesaran dan keagungan Allah. Tidak ada bentuk mufrad dari kata ‘ālam. Ma‘lūm berarti sesuatu yang telah diketahui dan ditentukan. Kata ini sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia untuk hal-hal yang sudah diketahui yaitu maklum.

Pada ayat di atas, Allah menjelaskan tentang kedudukan malaikat sebagai makhluk Allah. Para malaikat telah mempunyai kedudukan yang tertentu (maqām ma‘lūm). Mereka ini memiliki tugas yang tidak boleh dilebihkan atau dikurangi. Semuanya sudah ditentukan sesuai dengan ketetapan-Nya. Dan kenyataannya, mereka adalah makhluk Allah yang senantiasa taat menjalankan segala perintah-Nya, sedikit pun tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya (at-Taḥrīm/66: 6).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto