Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 36 - Surat Aṣ-Ṣāffāt (Barisan-Barisan)
الصّٰۤفّٰت
Ayat 36 / 182 •  Surat 37 / 114 •  Halaman 447 •  Quarter Hizb 45.5 •  Juz 23 •  Manzil 6 • Makkiyah

وَيَقُوْلُوْنَ اَىِٕنَّا لَتَارِكُوْٓا اٰلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُوْنٍ ۗ

Wa yaqūlūna a'innā latārikū ālihatinā lisyā‘irim majnūn(in).

Mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?”

Makna Surat As-Saffat Ayat 36
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

dan ketika diajak untuk menyembah dan mengesakan Allah, mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami hanya karena seorang penyair gila?”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian Allah menguraikan sebagian penyebab hukuman yang ditimpakan kepada orang-orang yang berdosa itu. Sewaktu di dunia mereka menolak ajaran tauhid ketika disampaikan kepada mereka dan berpaling tidak mau mendengarkan bacaan kalimat tauhid “Lā ilāha illallāh” yang artinya, “tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah”. Alasan penolakan mereka ialah kemustahilan bagi mereka meninggalkan sembahan-sembahan nenek moyangnya.

Mereka mewarisi tradisi penyembahan berhala dan patung secara turun-temurun. Menurut mereka hal itu suatu kebenaran yang terus-menerus harus dipegang. Keyakinan itu tidak akan ditinggalkan hanya untuk mendengarkan perkataan seseorang penyair gila yang tidak patut didengarkan pembicaraannya dan tidak perlu pula didengar ajaran-ajarannya. Perkataan Nabi menurut mereka penuh dengan khayalan.

Pernyataan orang kafir yang diucapkan di hadapan Nabi sewaktu hidup di dunia dengan penuh kesombongan, menunjukkan bahwa mereka mengingkari keesaan Allah, dan mengingkari kerasulan Muhammad saw. Keingkaran pertama ialah penolakan dengan sombong mendengarkan ajaran tauhid dan keingkaran kedua, pernyataan ketidakmungkinan meninggalkan sembahan-sembahan itu untuk mematuhi Rasul yang dituduhnya seorang yang gila.

Isi Kandungan Kosakata

Ṭāgīn طَاغِيْن (aṣ-Ṣāffāt/37: 30)

Ṭāgīn berasal dari kata ṭugyan yang berarti melampaui batas dalam keburukan. Dari kata ini lahir kata ṭāgūt yang bermakna segala sesuatu yang disembah selain Allah, seperti setan, dajjal, tukang sihir, diktator bertangan besi, dan lain-lain. Dalam ayat ini, para pemimpin kaum musyrik menolak tuduhan pengikut-pengikutnya bahwa mereka telah menyesatkan kaumnya. Mereka mengakui bahwa mereka tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kaumnya, tetapi kaumnya sendirilah yang memilih kesesatan karena tabiat mereka yang terlalu melampaui batas dalam berbagai perbuatan buruk.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto