Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 187 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 187 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 375 •  Quarter Hizb 38.25 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

فَاَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِّنَ السَّمَاۤءِ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ ۗ

Fa asqiṭ ‘alainā kisafam minas-samā'i in kunta minaṣ-ṣādiqīn(a).

Maka, jatuhkanlah kepada kami kepingan-kepingan dari langit (agar kami binasa) jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 187
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Mereka dengan pongahnya balik menantang Nabi Syuaib agar bisa mendatangkan siksaan kepada mereka, “Maka cepat jatuhkanlah siksaan Tuhanmu kepada kami berupa gumpalan apa saja dari langit, baik berupa batu atau lainnya, jika engkau termasuk orang-orang yang benar bahwa engkau adalah utusan Allah.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Sekalipun Syuaib telah mengingatkan kaumnya, tetapi mereka tetap ingkar dan kafir. Bahkan mereka mencela Syuaib dan memandang ringan ancaman Allah yang disampaikan kepada mereka dengan menyatakan bahwa: pertama, Syuaib termasuk salah seorang yang kena sihir, yang mengatakan dan melakukan sesuatu hanya berdasarkan khayalan dan angan-angan belaka. Syuaib seorang manusia biasa seperti mereka, tidak memiliki kelebihan apa pun dari mereka, dan bahkan ia seorang yang rusak akalnya.

Mereka mendustakan Syuaib, dan tidak percaya sedikit pun bahwa dia adalah rasul Allah yang diutus kepada mereka. Oleh karena itu, mereka mengingkari Nabi Syuaib, menghalangi orang lain mendatanginya, dan mengancam orang-orang yang beriman kepadanya. Akan tetapi, Syuaib terus menasihati dan mengingatkan mereka. Syuaib adalah nabi yang sangat pintar berdebat dengan kaumnya. Dalil-dalil dan argumennya amat kuat, sehingga para mufasir menjulukinya dengan Khāṭib al-Anbiyā’ (ahli pidato di antara para nabi).

Namun demikian, penduduk Madyan tetap membangkang dan menyangkal seruan Syuaib. Kadang-kadang mereka mengatakan bahwa mereka tidak paham apa yang dikatakannya, padahal seruan itu sudah jelas dan terang. Kadang-kadang mereka mengatakan bahwa Syuaib orang lemah, seakan-akan mereka mengira bahwa kekuatanlah yang menjadi ukuran kebenaran dan keadilan. Kadang-kadang mereka mengancam akan membunuh Syuaib, dan mengusir para pengikutnya yang beriman dari negeri itu apabila Syuaib dan orang-orang yang beriman itu tidak kembali kepada agama mereka.

Kaum Syuaib juga mengingatkan masyarakat bahwa mereka akan merugi kalau mengikuti agama Syuaib karena melarang mereka mengurangi takaran dan timbangan. Mereka merasa heran kepada Syuaib yang melarang mereka menyembah sembahan nenek moyang mereka, dan berbuat apa yang mereka sukai terhadap harta mereka. Mereka mencela Syuaib tentang kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Mereka mengejek dengan sinis salat yang dikerjakan Syuaib. Allah berfirman:

قَالُوْا يٰشُعَيْبُ اَصَلٰوتُكَ تَأْمُرُكَ اَنْ نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُنَآ اَوْ اَنْ نَّفْعَلَ فِيْٓ اَمْوَالِنَا مَا نَشٰۤؤُا ۗاِنَّكَ لَاَنْتَ الْحَلِيْمُ الرَّشِيْدُ ٨٧

Mereka berkata, “Wahai Syuaib! Apakah agamamu yang menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami atau melarang kami mengelola harta kami menurut cara yang kami kehendaki? Sesungguhnya engkau benar-benar orang yang sangat penyantun dan pandai.” (Hūd/11: 87).

قَالُوْا يٰشُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيْرًا مِّمَّا تَقُوْلُ وَاِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْنَا ضَعِيْفًا ۗوَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنٰكَ ۖوَمَآ اَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيْزٍ ٩١

Mereka berkata, “Wahai Syuaib! Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang engkau katakan itu, sedang kenyataannya kami memandang engkau seorang yang lemah di antara kami. Kalau tidak karena keluargamu, tentu kami telah merajam engkau, sedang engkau pun bukan seorang yang berpengaruh di lingkungan kami.” (Hūd/11: 91).

Kedua, Jika Syuaib benar-benar seorang nabi dan rasul Allah, maka ia diminta untuk menurunkan kepada mereka (kaum Syuaib) gumpalan-gumpalan dari langit, sebagaimana yang telah diancamkannya. Sikap kaum Syuaib ini sama dengan sikap kaum Quraisy ketika menentang Nabi Muhammad agar beliau memancarkan air dari bumi untuk mereka, mendatangkan sebuah kebun dan kurma serta anggur yang indah, mendatangkan azab dengan menjatuhkan kepingan-kepingan dari langit yang menimpa mereka, atau mendatangkan sebuah rumah emas dan sebagainya. (Baca Surah al-Isrā’/17: 90-93).

Isi Kandungan Kosakata

1. Aṣḥāb al-Aikah أَصْحَابُ اْلأَيْكَةِ (asy-Syu’arā’/26: 176)

Berbicara tentang “Aṣḥāb al-Aikah” tentu tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang Syuaib dan Madyan. Kata “aikah” umumnya diartikan para mufasir dengan “hutan,” ada pula yang mengartikan “lembah, wadi.” Al-Mu’jam al-Mufaḥras li Alfāẓ al-Qur’ān al-Karīm mengartikan kata aikah sebagai pohon belukar. Tentu letaknya di Madyan, tempat Nabi Syuaib diutus. Aṣḥābul Aikah ialah suatu masyarakat Nabi Syuaib, tempat tinggal mereka di daerah pepohonan yang lebat. Akan tetapi, arti ini tidak begitu penting. Kedua kata ini di dalam al-Qur’an terdapat dalam al-Ḥijr/15: 78, asy-Syu’arā’/26: 176, Ṡād/38: 13 dan Qāf/50: 14.

Dalam Surah al-Ḥijr/15: 78, mereka dilukiskan sebagai orang-orang zalim atau durjana. Ayat yang agak terinci mengenai ini terdapat dalam asy-Syu’arā’/26: 176-191. Dalam ayat-ayat ini disebutkan bahwa para penghuni hutan itu telah mendustakan nabi-nabi mereka, termasuk Nabi Syuaib, yang memperkenalkan diri kepada mereka tanpa mengharapkan imbalan, mengajak bertakwa kepada Allah dan mau menaatinya. Mereka adalah masyarakat pedagang yang suka menipu. Syuaib mengingatkan mereka agar jangan bertindak merugikan orang lain, mengecoh dalam berdagang, memalsukan dagangan dan mempermainkan timbangan dan sukatan. Akan tetapi, mereka berbalik menuduh Syuaib sudah kena sihir, pendusta, dan dia tidak berbeda dengan mereka, manusia biasa. Dia ditantang agar membuktikan kenabiannya dengan menjatuhkan kepingan-kepingan dari langit, seperti halnya dengan Nabi Muhammad yang menghadapi tantangan Quraisy (al-Isrā’/17: 92). Para penghuni hutan itu kemudian mengalami bencana yang membinasakan mereka. (Lihat juga Kosakata “Syuaib” dan “Madyan”)

2. Al-Jibillah al-Awwalīn الْجِبِلَّة الْأَوَّلِيْن (asy-Syu’arā’/26: 184)

Al-Jibillah al-awwalīn artinya umat terdahulu. Akar katanya (jim-ba’-lam) arti dasarnya adalah berkumpulnya sesuatu dan meninggi. Dari sini muncul kata “jabal” artinya gunung. Jika kita mendengar kata gunung maka yang terbenak dalam hati kita ialah sesuatu yang besar, tinggi, kekar. Al-Jabal atau jibill juga diartikan dengan kelompok manusia yang banyak (Lihat Surah Yāsīn/36: 62). Al-Jabal diartikan juga dengan karakter atau sifat yang ada pada seseorang yang sulit untuk diubah sebagaimana sulitnya mengalihkan gunung. Jika dikatakan: Fulan Jabal artinya si Fulan mempunyai pendirian yang kokoh bagaikan gunung.

Ayat ini menjelaskan tentang perintah Nabi Syuaib kepada kaumnya agar mereka bertakwa kepada Allah yang menciptakan mereka dan Yang menciptakan kaum sebelum mereka. Dengan melihat arti dasar dari kata ini bisa dibayangkan bahwa kaum sebelum mereka terdiri dari umat yang banyak dengan perawakan mereka yang besar dan kekar. Mereka mempunyai watak dan karakter yang sulit untuk diubah.

3. Aẓ-Żullah الظُّلَّة (asy-Syu’arā’/26: 189)

Kata aẓ-ẓullah jamaknya ẓulal-ẓilal berarti awan, dari fi’il ẓalla-yaẓallu-ẓalālat an, yang berarti teduh, redup, mendung, berawan. Siksa hari berawan yang disebut dalam ayat 189 Surah asy-Syu’arā’ di atas adalah siksa yang bersumber dari awan berupa guntur dan kilat yang sahut-menyahut, sehingga memorak-porandakan bangunan dan membinasakan orang-orang kafir.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto