Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 81 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 81 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 370 •  Quarter Hizb 37.75 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

وَالَّذِيْ يُمِيْتُنِيْ ثُمَّ يُحْيِيْنِ ۙ

Wal-lażī yumītunī ṡumma yuḥyīn(i).

(Dia) yang akan mematikanku, kemudian menghidupkanku (kembali).

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 81
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan Yang akan mematikan aku kemudian akan menghidupkan aku kembali, pada hari akhirat nanti. Inilah Tuhan yang patut kamu sembah, karena kekuasaan-Nya yang mutlak.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menegaskan bahwa Allah yang mematikan manusia, kemudian Dia pula yang menghidupkan dan membangkitkan kembali. Tidak seorang pun yang berhak dan sanggup berbuat itu, kecuali Dia sendiri. Dimaksudkan dengan menghidupkan dalam ayat ini adalah membangkitkan kembali sesudah mati. Antara datangnya kematian dan kehidupan baru ditandai dengan waktu yang lama dan tidak bisa diketahui oleh manusia ketentuan datangnya. Kalau dipersoalkan, mati juga kadang-kadang akibat perbuatan manusia itu sendiri, sedang dalam ayat ini Allah menegaskan Dia sendirilah yang mematikan manusia, maka bagaimana kita membedakan mati yang dinisbahkan kepada Allah dan sakit yang disebabkan oleh manusia? Mati adalah suatu ketetapan yang pasti berlaku bagi semua orang tanpa kecuali, sedangkan sakit khusus menimpa seseorang. Artinya belum tentu semua orang menderita suatu macam penyakit, masing-masing mereka menderita penyakit yang berbeda pula. Sering pula orang mati secara mendadak, tanpa didahului oleh sakit. Jelaslah mati itu umum sifatnya, sebaliknya sakit khusus menimpa diri seseorang.

Isi Kandungan Kosakata

1. Yuṭ’imunī wa yasqīnī يُطْعِمُنِي وَ يَسْقِيْنِي (asy-Syu’arā’/26: 79).

Secara bahasa term yuṭ’imunī wa yasqīnī terdiri dari dua kata, yaitu yuṭ’imunī dan yasqīnī. Yang pertama berarti memberi aku makan, dan yang kedua maknanya memberi aku minum. Subjek dari kedua kata kerja itu adalah Allah. Selanjutnya, pemberian makan dan minum oleh Allah, seperti yang diucapkan Nabi Ibrahim ini, harus dipahami dalam arti menyiapkan sarana perolehannya, bukan pemberian bahannya yang langsung dimakan dan diminum. Dengan demikian, manusia dituntut untuk mencarinya dan bukan menanti kedatangannya tanpa usaha. Itu sebabnya ketika ayat-ayat Al-Qur’an berbicara tentang penganugerahan rezeki, maka kata yang dipergunakan berbentuk jamak, seperti narzuqukum atau narzuquhum. Penggunaan bentuk jamak ini mengisyaratkan adanya keterlibatan sesuatu selain Allah dalam perolehannya. Yang terlibat dalam kegiatan seperti ini antara lain adalah manusia itu sendiri. Selain itu, ungkapan di atas juga merupakan isyarat bahwa kebutuhan material yang paling utama yang diperlukan makhluk hidup adalah persoalan makan dan minum.

2. Yasyfīni يَشْفِيْنِ (asy-Syu’arā’/26: 80).

Secara bahasa yasyfīni berarti menyembuhkan aku. Subjek dari kata kerja ini adalah Allah. Dengan demikian, term di atas maknanya adalah Allah yang menyembuhkan aku. Ini merupakan isyarat bahwa yang memberikan kesembuhan itu adalah Allah. Selain itu, ungkapan ini juga merupakan isyarat bahwa sumber segala anugerah adalah Allah. Redaksi seperti ini berbeda dari pembicaraan tentang penyakit yang diawali dengan kata iżā (jika) yang mengandung suatu keniscayaan. Hal yang sedemikian ini karena penganugerahan nikmat merupakan sesuatu yang terpuji, sehingga wajar bila disandarkan kepada Allah. Selain itu, perlu pula ditegaskan bahwa penyembuhan yang dimaksud bukan berarti upaya manusia untuk memperoleh kesembuhan tidak diperlukan lagi. Dalam masalah ini, banyak hadis Nabi Muhammad yang menganjurkan umatnya untuk berobat agar sembuh dari penyakit yang dideritanya. Ungkapan pada ayat ini dimaksudkan untuk menyatakan bahwa sebab dari segala sebab adalah Allah.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto