تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِيْنِ
Tilka āyātul-kitābil-mubīn(i).
Itulah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas.
Inilah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang men-jelas-kan hal-hal benar yang harus diikuti, dan yang batil yang harus dijauhi, yang baik dan mana yang buruk. Semuanya dijelaskan secara gamblang. Walaupun demikian gamblang, masih banyak manusia yang mengingkarinya.
Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an ini menerangkan yang benar dan salah, yang baik dan buruk dengan jelas dan mudah dipahami, sebagai pedoman bagi manusia dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi. Dengan mengamalkan isi dan kandungan ayat-ayat itu, manusia pasti akan mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Hal ini diyakini benar oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya yang telah beriman. Akan tetapi, orang kafir Mekah selalu menolak ajaran-ajaran itu dan memperolok-olokkan bila Nabi Muhammad menyeru mereka untuk beriman. Bahkan mereka mencemooh, menghina, dan menuduhnya dengan berbagai macam tuduhan, seperti menyatakan bahwa Muhammad saw gila atau seorang yang kena sihir atau seorang penyair.
Bākhi’ بَاخِعٌ (asy-Syu’arā’/26: 3)
Berasal dari kata kerja bakha’a yang berarti menyembelih. Kata ini terambil dari kata bukha’ yaitu urat nadi yang terdapat di bagian belakang binatang. Jika urat nadi ini dipotong, maka nyawa terpisah dari badan. Kata ini menggambarkan kesedihan yang luar biasa hingga bisa menyebabkan kematian.
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bagaimana keadaan Nabi yang sangat sedih karena orang-orang musyrik Mekkah tidak mau beriman kepada ajarannya. Rasul berkeinginan agar semua orang menyambut ajakannya karena cintanya kepada manusia dan kasih sayangnya kepada mereka, sehingga seolah-olah beliau ingin membinasakan diri sendiri melihat penolakan mereka. Kata bākhi’ disebutkan dalam Al-Qur’an dua kali, pada ayat ini dan pada Surah al-Kahf/18: 6.













































