اَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُوْنَ
Afa bi‘ażābinā yasta‘jilūn(a).
Bukankah mereka yang meminta agar azab Kami disegerakan?
Bukankah mereka yang meminta agar azab kami dipercepat? Akan tetapi, ketika Kami menimpakan azab itu kepada mereka, mereka meminta agar diberi kesempatan sekali lagi untuk bertobat. Inilah sikap mereka yang saling bertentangan.
Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang musyrik Mekah pernah mengejek Nabi Muhammad dengan menanyakan kapan azab yang dijanjikan itu akan menimpa mereka. Pertanyaan mereka itu dijawab Allah melalui ayat ini dengan mengatakan, “Apakah mereka minta dipercepat datangnya azab yang Kami janjikan itu?” Sebenarnya mereka tidak perlu menanyakan kapan azab yang diancamkan Allah itu datang. Mereka cukup memperhatikan malapetaka yang telah menimpa umat-umat dahulu yang telah mendustakan para rasul yang diutus Allah kepada mereka. Padahal umat-umat dahulu itu adalah umat yang gagah perkasa dan mempunyai kemampuan untuk memakmurkan negara mereka, tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang sanggup mengelakkan diri dari azab Allah.
Lama’zūlūn لَمَعْزُوْلُوْ نَ (asy-Syu’arā’/26: 212)
Kata ma’zūlūn adalah isim maf’ūl yang berarti dijauhkan, diambil dari fi’il ‘azala-ya’zilu-’azlan yang berarti memisahkan. Lam adalah ḥarf taukīd, sehingga makna lama’zūlūn adalah benar-benar dijauhkan atau dipisahkan. Maksud kata lama’zūlūn dalam Surah asy-Syu’arā’/26: 212 di atas adalah bahwa setan berbentuk manusia atau jin dijauhkan dari ikut campur tangan terhadap Al-Qur’an karena adanya pemeliharaan dari Allah. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak tersentuh oleh kesesatan dan kesalahan, atau campur tangan setan dan manusia.





























