Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 203 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 203 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 375 •  Quarter Hizb 38.25 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

فَيَقُوْلُوْا هَلْ نَحْنُ مُنْظَرُوْنَ ۗ

Fa yaqūlū hal naḥnu munẓarūn(a).

Lalu, mereka berkata, “Apakah kami diberi penangguhan waktu?”

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 203
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Lalu mereka berkata, “Apakah kami diberi penangguhan waktu, yakni perpanjangan umur, sehingga kami bisa bertobat, beriman kepada Al-Qur’an dan melakukan amal saleh?”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam keadaan demikian, tanpa mereka sadari, datanglah azab kepada mereka secara tiba-tiba dan tidak diketahui dari mana datangnya. Ketika itu, barulah mereka sadar akan perbuatan mereka selama ini. Mereka mengeluh dan mengharap agar ditangguhkan kedatangan azab itu, sehingga mereka dapat mengerjakan amal saleh, beriman, dan taat kepada Allah dan rasul-Nya. Meskipun telah mengetahui bahwa permintaan itu tidak akan dikabulkan Allah, namun mereka mencoba-coba untuk meminta, sekadar mengurangi kepedihan azab yang sedang mereka alami.

Isi Kandungan Kosakata

1. Bilisān ‘Arabiy Mubīn بِلِسَانٍ عَرَبِىٍّ مُبِيْنٍ (asy-Syu’arā’/26: 195)

Kata lisān diambil dari fi’il lasina-yalsanu-lasanan berarti fasih lidahnya. Jamaknya adalah alsinah berarti lidah, bahasa. Kata ‘araby berarti bangsa Arab yang sebenarnya, diambil dari fi’il aruba-ya’rubu-’arabatan- ’uruban-’araban yang berarti berbicara dengan bahasa Arab yang fasih. Lisān al-’arab artinya bahasa Arab. Kata lisan yang diiringi oleh kata sifat ‘arabiy sehingga menjadi lisān ‘arabiy mengandung pengertian khusus, yaitu bahasa Al-Qur’an. Pengertian ini dapat ditemukan antara lain dalam Surah an-Naḥl/16:103, asy-Syu’arā’/26:195 dan al-Aḥqāf/46:12. Jadi pengertian bi lisān ‘arabiyyin mubīn adalah dengan bahasa Arab yang jelas, atau dengan bahasa Al-Qur’an yang jelas.

2. ‘Ulamā’ عُلَمٰؤُا (asy-Syu’arā’/26: 197)

Kata ‘ulamā’ adalah bentuk jamak dari kata ‘alīm yang terambil dari akar kata yang berarti mengetahui secara jelas. Oleh karena itu, semua kata yang terbentuk oleh huruf-huruf ‘ain, lam, dan mim, selalu menunjuk kepada kejelasan, seperti ‘alam/bendera, ‘alam/alam raya atau makhluk yang memiliki rasa atau kecerdasan, alamah/alamat.

Banyak pakar agama seperti Ibnu ‘Āsyūr dan aṭ-Ṭabāṭabā’ī memahami kata ‘ulamā’ dalam arti yang mendalami ilmu agama. Aṭ-Ṭabāṭabā’ī menulis bahwa mereka itu adalah yang mengenal Allah dengan nama, sifat, dan perbuatan-Nya, pengenalan yang bersifat sempurna sehingga hati mereka menjadi tenang, keraguan dan kegelisahan menjadi sirna, dan tampak pula dampaknya dalam kegiatan mereka sehingga amal mereka membenarkan ucapan mereka. Ṭāhir bin ‘Āsyūr menulis bahwa yang dimaksud dengan ulama adalah orang-orang yang mengetahui tentang Allah dan syariat.

Sayyid Quṭb mengatakan, “Ulama adalah mereka yang memperhatikan kitab yang menakjubkan itu (Al-Qur’an). Oleh karena itu, mereka mengenal Allah dengan pengenalan yang sebenarnya. Mereka mengenal-Nya melalui hasil ciptaan-Nya, mereka menjangkau-Nya melalui dampak kuasa-Nya, serta merasakan hakikat kebesaran-Nya dengan melihat hakikat kepada-Nya serta bertakwa sebenar-sebenarnya.”

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto