
- Tentang
- Lirik
- Review
- Tracklist
- Komentar
Terbayang di pelupuk mataku
derita mereka yang terusir tergusur
Tangis tersembunyi, amarah tersekat
dalam rongga dada duka haru biru
Makna lirik lagu ini menggambarkan empati dan keprihatinan terhadap penderitaan orang-oran... tampilkan semua
Lelaki tua runduk merangkak
menyuruk ke puing gubuk kardus bekas
Ada yang tertinggal, potret anak harapan
telah remuk bercampur tanah bongkaran
Makna lirik lagu ini menggambarkan kondisi kehidupan yang penuh kesedihan dan kehilangan, ... tampilkan semua
Hilang satu-satunya harapan
Bertahan hidup hanya percuma
Habis nafas di ujung raungan
Rebah tundas berkalang tanah
Makna lirik lagu ini mencerminkan perasaan kehilangan dan keputusasaan yang mendalam. Ungk... tampilkan semua
Oh! ya. ia beringas mengumpat-umpat
Oh! ya. ia menghardik berkeliling
Makna lirik lagu ini mencerminkan ekspresi emosi yang kuat dan konflik sosial yang terjadi... tampilkan semua
hu... hu... hu hu hu hu hu hu hu hu
Makna lirik lagu ini menggambarkan ekspresi perasaan yang mendalam, di mana bunyi "hu... h... tampilkan semua
Lagu "Potret Anak Harapan" yang ditulis dan dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade merupakan karya seni yang menggugah empati dan kesadaran sosial. Melalui liriknya yang penuh makna, lagu ini mengangkat tema tentang penderitaan dan harapan, serta kondisi kehidupan anak-anak yang terpinggirkan dalam masyarakat. Dalam artikel ini, kita akan mendalami makna dan pesan yang terkandung dalam lirik tersebut.
Rangkaian Penderitaan dan Kesedihan
Diawali dengan ungkapan "terbayang di pelupuk mataku", lirik ini mengajak pendengar untuk merenungkan gambaran nyata dari derita yang dialami oleh mereka yang terusir dan tergusur. Ekspresi ini menunjukkan betapa mendalamnya rasa empati sang penulis terhadap kondisi yang dialami oleh anak-anak dan masyarakat yang hidup dalam situasi sulit. Suasana kesedihan terasa sangat kental dalam frase "tangis tersembunyi, amarah tersekat", yang menggambarkan bagaimana rasa sakit dan ketidakberdayaan sering kali tidak dapat diekspresikan secara terbuka.
Kontras Antara Harapan dan Kenyataan
Selanjutnya, lirik menyebutkan sosok "lelaki tua runduk merangkak" yang menggambarkan keputusasaan dan ketidakberdayaan. Penggambaran ini mencerminkan adanya harapan yang telah terpendam, representasi dari "potret anak harapan" yang "telah remuk bercampur tanah bongkaran". Ini menjadi simbol dari impian dan masa depan yang hancur akibat keadaan yang sulit. Apa yang seharusnya menjadi harapan untuk anak-anak menjadi hancur dan terpinggirkan.
Keberanian dalam Keputusasaan
Frase "ia beringas mengumpat-umpat" dan "ia menghardik berkeliling" menunjukkan adanya perjuangan yang tak kunjung berhenti meski dalam kondisi yang sangat sulit. Hal ini menandakan bagaimana meskipun harapan tampak hilang, ada semangat untuk melawan keadaan. Namun, dengan kalimat "hilang satu-satunya harapan", lirik ini menyoroti kerapuhan dari kondisi yang dihadapi, di mana bertahan hidup terasa sia-sia. Ini mencerminkan adanya ketidakberdayaan yang mendalam ketika harapan tidak kunjung terpenuhi.
Refleksi pada Kehidupan
Dengan penutup "habis nafas di ujung raungan, rebah tundas berkalang tanah", ada nuansa akhir yang sangat pahit; sebuah penggambaran tentang bagaimana hidup dapat berakhir dengan keputusasaan dan tanpa pencapaian. Melalui lirik ini, Ebiet G. Ade menyerukan pendengar untuk merenungkan kondisi masyarakat yang terpinggirkan, terutama anak-anak, yang seharusnya menjadi harapan bagi masa depan tetapi justru terjerat dalam kondisi yang mencengangkan. Kalimat "hu... hu... hu hu hu hu hu hu hu hu" pada akhir lagu menambah kedalaman emosional, seolah mengisyaratkan kesedihan yang mendalam dan kesunyian yang menyertai setiap detak kehidupan yang hilang.
Pesan Sosial yang Kuat
Secara keseluruhan, "Potret Anak Harapan" lebih dari sekadar lagu; ia adalah seruan untuk menyadari dan memperhatikan penderitaan anak-anak dan orang-orang yang terpinggirkan dalam masyarakat kita. Lagu ini mengajak pendengar untuk merasakan dan merenungkan realitas pahit yang sering kali kita abaikan. Dengan lirik yang puitis dan penuh emosi, Ebiet G. Ade berhasil menciptakan sebuah karya yang tidak hanya menggugah perasaan, tetapi juga mengajak kita untuk berbuat lebih dalam membantu mereka yang membutuhkan.













































