قَالَ لِمَنْ حَوْلَهٗٓ اَلَا تَسْتَمِعُوْنَ
Qāla liman ḥaulahū alā tastami‘ūn(a).
Dia (Fir‘aun) berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Tidakkah kamu mendengar (apa yang dikatakannya)?”
Mendengar jawaban Nabi Musa ini, Fir’aun terasa mulai tersentak. Fir’aun berkata kepada orang-orang di sekelilingnya, yaitu para pembesar kerajaan, “Apakah kamu tidak mendengar apa yang dikatakannya?”
Pada ayat ini dijelaskan tentang reaksi Fir‘aun atas jawaban Musa di atas. Setelah mendengar jawaban Musa, ia cepat-cepat menoleh kepada kaumnya yang ada di sekelilingnya, dan menampakkan keheranannya. Fir‘aun berkata kepada mereka dengan nada menyindir dan mengejek, “Wahai kaumku, kamu sekalian telah mendengar ucapan-ucapan Musa yang mengatakan bahwa ada Tuhan selain aku? Apakah itu bukan suatu hal yang aneh dan suatu hal yang merupakan penyelewengan?” Hal ini dilakukan oleh Fir‘aun karena ia khawatir kalau-kalau kaumnya terpengaruh oleh jawaban Musa. Kalau begitu, mereka akan berbalik tidak mempercayai dan mengakuinya lagi sebagai Tuhan.
Al-Masjūnīn الْمَسْجُوْنِي ْنَ (asy-Syu’arā’/26: 29)
Al-Masjūnīn berasal dari akar kata sajana (memenjarakan), masjūn (yang dipenjarakan), dan jamaknya masjūnīn yang berarti mereka yang dipenjarakan. Kata-kata ini merupakan ancaman Fir‘aun kepada Musa dengan penjara karena ia menyeru semua manusia, termasuk Fir‘aun, untuk mengakui bahwa hanya Allah Tuhan yang Mahakuasa atas semesta alam ini. Oleh karenanya, Fir‘aun menganggap Musa orang gila dan sebagai pengkhianat. Akan tetapi, Nabi Musa menjawab dengan tenang bahwa dia bukan pengkhianat dan bukan pula orang gila seperti yang dituduhkan Fir‘aun kepadanya. Kalau perlu ia akan menunjukkan suatu mukjizat kepada Fir‘aun dan para pengikutnya agar ia percaya dan menerima bahwa tiada Tuhan selain Allah.





























