هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَّمِنْكُمْ مُّؤْمِنٌۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
Huwal-lażī khalaqakum fa minkum kāfiruw wa minkum mu'min(un), wallāhu bimā ta‘malūna baṣīr(un).
Dialah yang menciptakan kamu, lalu di antara kamu ada yang kafir dan ada yang mukmin. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Dialah yang menciptakan kamu dalam bentuk yang sebaik-baiknya, lalu di antara kamu ada yang kafir, karena mengikuti hawa nafsu; dan di antara kamu juga ada yang mukmin, karena Allah memberikan petunjuk dan manusia menggunakan akal dan nuraninya. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan sehingga tidak satu pun perbuatan manusia yang tidak diketahui-Nya.
Ayat ini menerangkan bahwa Allahlah yang menciptakan semua yang ada menurut kehendak-Nya. Allah berfirman:
اَللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۙوَّهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ ٦٢
Allah pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. (az-Zumar/39: 62)
Pada dasarnya manusia ketika dilahirkan dalam keadaan fitrah, tetapi sebagian dari manusia itu memilih kekafiran yang bertentangan dengan fitrahnya dan sebagian lagi memilih iman sesuai dengan tuntutan fitrahnya, sebagaimana sabda Nabi saw:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ . (رواه البخاري ومسلم)
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Maka kedua orang tualah yang akan menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim)
Andaikata manusia itu mau memikirkan kejadiannya dan kejadian yang ada di alam raya ini, pasti cukup menjadi jaminan bagi manusia untuk kembali kepada yang hak dengan memilih iman, dan mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya. Akan tetapi, manusia itu tidak sadar dan insaf atas semuanya itu, sehingga terjadilah perpecahan, mengingkari Tuhan yang menciptakannya, serta nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya. Selayaknya manusia itu menginsafi bahwa Allah melihat segala yang dikerjakannya, dan di akhirat nanti dia akan diberi balasan terhadap semua itu. Yang baik dibalas dengan surga, sedangkan yang jahat dibalas dengan siksaan dan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam, sejahat-jahat tempat kediaman, sebagaimana Allah berfirman:
اِنَّهَا سَاۤءَتْ مُسْتَقَرًّا وَّمُقَامًا ٦٦
Sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (al-Furqān/25: 66)
1. Al-Maṣīr الْمَصِيْرُ (at-Tagābun/64: 3)
Kata al-maṣīr merupakan isim makān (kata keterangan tempat) dari kata kerja ṣāra-yaṣīru, yang artinya menjadi. Sedangkan al-maṣīr sendiri diartikan sebagai tempat menjadi atau tempat kembali. Pada ayat ini kata tersebut menunjuk bahwa tempat kembali dari semua makhluk adalah Allah. Hal yang sedemikian ini karena Allah adalah Pencipta dan sekaligus Pemilik dari semua yang ada di alam ini. Oleh karena itu, semua yang ada pasti akan kembali kepada pemiliknya, dan pemilik dari semua yang ada adalah Allah.
2. Biżātiṣ-ṣud ūr بِذَاتِ الصُّدُوْرِ (at-Tagābun/64: 4)
Lafal biżātiṣ-ṣudūr terdiri dari tiga kata, yaitu bi, żāt, dan aṣ-ṣudūr. Yang pertama, bi pada ayat ini merupakan kata depan yang artinya di atau di dalam, yang menunjukkan tempat. Yang kedua, żāt, maknanya adalah sesuatu, namun pada ayat ini diartikan terdapat atau ada. Sedang yang ketiga, aṣ-ṣudūr, merupakan bentuk jamak dari ṣadr, yang artinya dada. Dengan demikian, ṣudūr artinya adalah dada-dada. Istilah biżātiṣ-ṣudūr pada ayat ini diartikan sebagai sesuatu yang terdapat dalam dada-dada manusia. Ungkapan ini untuk menyatakan bahwa Allah mengetahui apa saja yang terdapat di dalam dada siapa saja. Tidak ada satu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.














































