خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَاَحْسَنَ صُوَرَكُمْۚ وَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُ
Khalaqas-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqqi wa ṣawwarakum fa'aḥsana ṣuwarakum, wa ilaihil-maṣīr(u).
Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar, Dia membentuk kamu lalu memperindah bentukmu, dan kepada-Nyalah kembali(-mu).
Dia menciptakan langit tujuh lapis dan menciptakan bumi tujuh lapis dengan tujuan yang benar sehingga tidak sia-sia, Dia membentuk rupamu dengan tujuan yang baik untuk kemaslahatan kamu, lalu memperbagus rupamu supaya kamu bersyukur dan kepada-Nya tempat kembali dengan dikumpulkan di mahsyar.
Ayat ini menerangkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, penuh kebijaksanaan, dan menjamin kebahagiaan makhluknya di dunia dan akhirat. Dia pulalah yang menjadikan manusia dalam bentuk yang sebagus-bagusnya, berbeda dengan makhluk yang lain. Manusia akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di dunia lalu mendapat balasan yang setimpal, Allah berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ ٤
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (at-Tīn/95: 4)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
وَاتَّقُ وْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ࣖ ٢٨١
Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan). (al-Baqarah/2: 281)
Penjelasan mengenai penciptaan dengan tujuan yang benar dapat dilihat pada uraian mengenai hal yang sama pada Surah ad-Dukhān/44: 38-39 dan Ṣād/38: 27.
1. Al-Maṣīr الْمَصِيْرُ (at-Tagābun/64: 3)
Kata al-maṣīr merupakan isim makān (kata keterangan tempat) dari kata kerja ṣāra-yaṣīru, yang artinya menjadi. Sedangkan al-maṣīr sendiri diartikan sebagai tempat menjadi atau tempat kembali. Pada ayat ini kata tersebut menunjuk bahwa tempat kembali dari semua makhluk adalah Allah. Hal yang sedemikian ini karena Allah adalah Pencipta dan sekaligus Pemilik dari semua yang ada di alam ini. Oleh karena itu, semua yang ada pasti akan kembali kepada pemiliknya, dan pemilik dari semua yang ada adalah Allah.
2. Biżātiṣ-ṣud ūr بِذَاتِ الصُّدُوْرِ (at-Tagābun/64: 4)
Lafal biżātiṣ-ṣudūr terdiri dari tiga kata, yaitu bi, żāt, dan aṣ-ṣudūr. Yang pertama, bi pada ayat ini merupakan kata depan yang artinya di atau di dalam, yang menunjukkan tempat. Yang kedua, żāt, maknanya adalah sesuatu, namun pada ayat ini diartikan terdapat atau ada. Sedang yang ketiga, aṣ-ṣudūr, merupakan bentuk jamak dari ṣadr, yang artinya dada. Dengan demikian, ṣudūr artinya adalah dada-dada. Istilah biżātiṣ-ṣudūr pada ayat ini diartikan sebagai sesuatu yang terdapat dalam dada-dada manusia. Ungkapan ini untuk menyatakan bahwa Allah mengetahui apa saja yang terdapat di dalam dada siapa saja. Tidak ada satu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.
















































