يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ
Ya‘lamu mā fis-samāwāti wal-arḍi wa ya‘lamu mā tusirrūna wa mā tu‘linūn(a), wallāhu ‘alīmum biżātiṣ-ṣudūr(i).
Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi. Dia juga mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan. Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
Manusia, menurut ayat ini, harus menyadari bahwa Dia mengetahui apa yang di langit dengan pengetahuan yang menyeluruh; dan mengetahui segala yang ada di bumi, termasuk benda paling kecil yang tak terlihat mata dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan di dalam hati dan mengetahui apa yang kamu nyatakan secara lisan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati yang tersembunyi.
Ayat ini menyatakan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak satu pun yang tersembunyi bagi-Nya. Dialah yang mengatur yang ada sesuai dengan ilmu-Nya yang luas dan kekuasaan-Nya yang mencakup dan meliputi segala sesuatu menurut kehendak-Nya, sebagaimana Allah berfirman:
اِنَّمَا ٓ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ٨٢
Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. (Yāsīn/36: 82)
Allah mengetahui segala sesuatu, baik yang dirahasiakan apalagi yang tampak nyata. Maka seyogyanya manusia berbuat sesuai dengan apa yang digariskan agama Allah yang dibawa junjungan kita Nabi Muhammad saw yaitu agama Islam, untuk mendapat rida-Nya, memperoleh pahala yang berlipat-ganda, dan berbahagia di dunia dan akhirat.
Ayat ke-4 ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa Allah itu Maha Mengetahui segala isi hati, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya. Firman Allah:
اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (al-‘Ankabūt/29: 62)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ
Sesu ngguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (Luqmān/31: 23)
1. Al-Maṣīr الْمَصِيْرُ (at-Tagābun/64: 3)
Kata al-maṣīr merupakan isim makān (kata keterangan tempat) dari kata kerja ṣāra-yaṣīru, yang artinya menjadi. Sedangkan al-maṣīr sendiri diartikan sebagai tempat menjadi atau tempat kembali. Pada ayat ini kata tersebut menunjuk bahwa tempat kembali dari semua makhluk adalah Allah. Hal yang sedemikian ini karena Allah adalah Pencipta dan sekaligus Pemilik dari semua yang ada di alam ini. Oleh karena itu, semua yang ada pasti akan kembali kepada pemiliknya, dan pemilik dari semua yang ada adalah Allah.
2. Biżātiṣ-ṣud ūr بِذَاتِ الصُّدُوْرِ (at-Tagābun/64: 4)
Lafal biżātiṣ-ṣudūr terdiri dari tiga kata, yaitu bi, żāt, dan aṣ-ṣudūr. Yang pertama, bi pada ayat ini merupakan kata depan yang artinya di atau di dalam, yang menunjukkan tempat. Yang kedua, żāt, maknanya adalah sesuatu, namun pada ayat ini diartikan terdapat atau ada. Sedang yang ketiga, aṣ-ṣudūr, merupakan bentuk jamak dari ṣadr, yang artinya dada. Dengan demikian, ṣudūr artinya adalah dada-dada. Istilah biżātiṣ-ṣudūr pada ayat ini diartikan sebagai sesuatu yang terdapat dalam dada-dada manusia. Ungkapan ini untuk menyatakan bahwa Allah mengetahui apa saja yang terdapat di dalam dada siapa saja. Tidak ada satu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.













































