فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Fattaqullāha mastaṭa‘tum wasma‘ū wa aṭī‘ū wa anfiqū khairal li'anfusikum, wa may yūqa syuḥḥa nafsihī fa ulā'ika humul-mufliḥūn(a).
Bertakwalah kamu kepada Allah sekuat kemampuanmu! Dengarkanlah, taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu! Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, Allah memberikan bimbingan. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, karena Allah tidak membebani manusia kecuali sesuai dengan kesanggupannya; dan dengarlah ayat-ayat Allah, serta taatlah kepada-Nya; dan infakkanlah harta kamu yang baik, yaitu yang diperoleh dengan cara yang halal kepada fakir miskin, karena infak itu hakikatnya untuk diri kamu bekal di akhirat. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran dengan membiasakan diri sejak kecil menjadi dermawan; mereka itulah orang-orang yang beruntung karena baik dan benar dalam mengelola harta yang dititipkan Allah kepada mereka.
Allah memerintahkan agar manusia yang mempunyai harta, anak, dan istri bertakwa kepada-Nya sekuat tenaga dan kemampuannya, sebagaimana dijelaskan oleh sabda Nabi saw:
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَمَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْه ُ. (رواه البخاري عن أبي هريرة)
Apabila saya perintahkan kamu dengan sesuatu maka laksanakanlah dengan maksimal dan apa yang saya larang melakukannya, maka jauhilah ia. (Riwayat al-Bukhārī dari Abū Hurairah)
Dalam firman Allah juga dijelaskan:
اتَّقُو اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (Āli ‘Imrān/3: 102)
Selanjutnya Allah memerintahkan orang-orang beriman agar mendengar dan patuh kepada perintah Allah dan rasul-Nya. Tidak terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya, sehingga melanggar apa yang dilarang agama. Harta benda agar dibelanjakan untuk meringankan penderitaan fakir miskin, menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan, dan untuk membantu berbagai kegiatan yang berguna bagi umat dan agama, yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat. Yang demikian itu jauh lebih baik daripada menumpuk harta dan memanjakan anak.
Ayat ke-16 ini ditutup dengan satu penegasan bahwa orang yang menjauhi kebakhilan dan ketamakan pada harta adalah orang yang beruntung. Ia akan mencapai keinginannya di dunia dan akhirat, serta disenangi oleh teman-temannya. Di akhirat nanti, ia sangat berbahagia karena dekat dengan Tuhannya, disenangi, diridai, dan dimasukkan ke dalam surga.
1. ‘Aduwwan Lakum عَدُوًّا لَكُمْ (at-Tagābun/64: 14)
Kata ‘aduwwan lakum terdiri dari dua kata, yaitu kata ‘aduww dan lakum. Kata ‘aduww berarti musuh atau lawan, jamaknya adalah a‘dā' dari fi‘il ‘adā-ya‘dū-‘adwan wa ‘adawānan wa ‘udwānan, yang berarti memusuhi, membenci, dan berbuat zalim.
Kata ‘aduwwan lakum pada ayat 14 Surah at-Tagābun berarti musuh bagi kamu, maksudnya sebagian para istri dan anak-anak bagaikan musuh, karena kadang-kadang mereka dapat memalingkan para suami atau para ayah dari tuntunan agama, atau menuntut sesuatu yang berada di luar kemampuan, sehingga akhirnya suami atau ayah itu melakukan pelanggaran.
Kata ‘aduww disebut 35 kali dalam Al-Qur’an, antara lain dalam Surah at-Tagābun ayat 14 dan semuanya berarti musuh.
2. Syuḥḥa Nafsihi شُحَّ نَفْسِهِ (at-Tagābun/64: 16)
Kata syuḥḥa nafsihi terdiri dari dua kata yaitu syuḥḥa dan nafsihi. Kata syuḥḥa adalah maṣdar (kata asal) dari fi‘il (kata kerja) syaḥḥa-yasyuḥḥu/yasy aḥḥu/yasyiḥḥu-syuḥ ḥan wa syaḥḥan wa syiḥḥan, yang berarti kikir, tamak, rakus, atau loba. Sedangkan kata nafsihi berarti jiwanya, rohnya, jasadnya, badannya, tubuhnya, dirinya, dan hatinya.
Dalam ayat 16 Surah at-Tagābun, kata syuḥḥa nafsihi berarti kikir hatinya atau jiwanya, yaitu tamak atau serakah terhadap harta benda. Kata asy-syuḥḥa disebutkan tiga kali dalam Al-Qur’an, yaitu pada Surah an-Nisā’/4: 128, al-Ḥasyr/59: 9 dan at-Tagābun/64: 16. Semua kata asy-syuḥḥa tersebut berarti kikir.




































