اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ
Innamā amwālukum wa aulādukum fitnah(tun), wallāhu ‘indahū ajrun ‘aẓīm(un).
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah (ada) pahala yang besar.
Manusia harus menyadari dengan penuh keinsafan peringatan Allah pada ayat ini. Sesungguhnya harta kamu yang sangat kamu cintai dan anak-anak kamu yang menjadi kebanggaan kamu hanyalah cobaan bagimu, apakah kamu mengelolanya dengan baik dan benar, serta mendidik mereka dengan agama yang lurus; dan di sisi Allah pahala yang besar bagi orang-orang beriman yang mengelola harta dengan baik dan mendidik anak-anak dengan benar.
Allah menerangkan bahwa cinta terhadap harta dan anak adalah cobaan. Jika tidak berhati-hati, akan mendatangkan bencana. Tidak sedikit orang, karena cintanya yang berlebihan kepada harta dan anaknya, berani berbuat yang bukan-bukan dan melanggar ketentuan agama. Dalam ayat ini, harta didahulukan dari anak karena ujian dan bencana harta itu lebih besar, sebagaimana firman Allah:
كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۙ ٦ اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ ٧
Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup. (al-‘Alaq/96: 6-7)
Dijelaskan pula dalam sabda Nabi saw.
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِيْ اَلْمَالُ. (رواه أحمد والترمذي والطبراني والحاكم عن كعب بن عياض)
Sesungguhnya bagi tiap-tiap umat ada cobaan dan sesungguhnya cobaan umatku (yang berat) ialah harta, (Riwayat Aḥmad, at-Tirmiżī, aṭ-Ṭabrānī, dan al-Ḥākim, dari Ka‘ab bin ‘Iyāḍ)
Kalau manusia dapat menahan diri, tidak akan berlebihan cintanya kepada harta dan anaknya, jika cintanya kepada Allah lebih besar daripada cintanya kepada yang lain, maka ia akan mendapat pahala yang besar dan berlipat ganda.
1. ‘Aduwwan Lakum عَدُوًّا لَكُمْ (at-Tagābun/64: 14)
Kata ‘aduwwan lakum terdiri dari dua kata, yaitu kata ‘aduww dan lakum. Kata ‘aduww berarti musuh atau lawan, jamaknya adalah a‘dā' dari fi‘il ‘adā-ya‘dū-‘adwan wa ‘adawānan wa ‘udwānan, yang berarti memusuhi, membenci, dan berbuat zalim.
Kata ‘aduwwan lakum pada ayat 14 Surah at-Tagābun berarti musuh bagi kamu, maksudnya sebagian para istri dan anak-anak bagaikan musuh, karena kadang-kadang mereka dapat memalingkan para suami atau para ayah dari tuntunan agama, atau menuntut sesuatu yang berada di luar kemampuan, sehingga akhirnya suami atau ayah itu melakukan pelanggaran.
Kata ‘aduww disebut 35 kali dalam Al-Qur’an, antara lain dalam Surah at-Tagābun ayat 14 dan semuanya berarti musuh.
2. Syuḥḥa Nafsihi شُحَّ نَفْسِهِ (at-Tagābun/64: 16)
Kata syuḥḥa nafsihi terdiri dari dua kata yaitu syuḥḥa dan nafsihi. Kata syuḥḥa adalah maṣdar (kata asal) dari fi‘il (kata kerja) syaḥḥa-yasyuḥḥu/yasy aḥḥu/yasyiḥḥu-syuḥ ḥan wa syaḥḥan wa syiḥḥan, yang berarti kikir, tamak, rakus, atau loba. Sedangkan kata nafsihi berarti jiwanya, rohnya, jasadnya, badannya, tubuhnya, dirinya, dan hatinya.
Dalam ayat 16 Surah at-Tagābun, kata syuḥḥa nafsihi berarti kikir hatinya atau jiwanya, yaitu tamak atau serakah terhadap harta benda. Kata asy-syuḥḥa disebutkan tiga kali dalam Al-Qur’an, yaitu pada Surah an-Nisā’/4: 128, al-Ḥasyr/59: 9 dan at-Tagābun/64: 16. Semua kata asy-syuḥḥa tersebut berarti kikir.












































