Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 26 - Surat At-Taubah (Pengampunan)
التّوبة
Ayat 26 / 129 •  Surat 9 / 114 •  Halaman 190 •  Quarter Hizb 19.75 •  Juz 10 •  Manzil 2 • Madaniyah

ثُمَّ اَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَاَنْزَلَ جُنُوْدًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ وَذٰلِكَ جَزَاۤءُ الْكٰفِرِيْنَ

Ṡumma anzalallāhu sakīnatahū ‘alā rasūlihī wa ‘alal-mu'minīna wa anzala junūdal lam tarauhā wa ‘ażżabal-lażīna kafarū, wa żālika jazā'ul-kāfirīn(a).

Kemudian, Allah menurunkan ketenangan (dari)-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang kamu tidak melihatnya, juga menyiksa orang-orang yang kafir. Itulah balasan terhadap orang-orang kafir.

Makna Surat At-Taubah Ayat 26
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Pada Perang Hunain, mulanya kaum muslim mengalami kekalahan, namun kemudian atas rahmat Allah, Dia menurunkan ketenangan berupa keimanan yang tulus dan kukuh, kepada Rasul-Nya dan kepada orangorang yang beriman, sehingga mereka mampu mengatasi masalah yang sangat berat saat itu, dan Dia menguatkan pasukan kaum mukmin yang tersisa itu dengan menurunkan bala tentara dari para malaikat yang tidak terlihat olehmu; dan sebagai hukuman, Dia menimpakan azab kepada orang-orang kafir melalui penawanan, pembunuhan, perampasan perang, dan lain-lain. Itulah balasan bagi orang-orang kafir yang menutup-nutupi kebenaran Ilahi dan bahkan menentangnya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa sesudah kaum Muslimin merasa sedih dan duka cita akibat kekalahan dalam Perang Hunain, maka Allah menurunkan pertolongan kepada mereka berupa kemantapan hati dan mendatangkan bala bantuan yang tidak dapat mereka lihat. Bala bantuan itu terdiri dari malaikat-malaikat. Perasaan sedih dan duka cita bagi kaum Muslimin berubah menjadi tenang, berani, dan semangat maju ke depan. Akhirnya orang-orang kafir menderita kekalahan, dibunuh, ditawan dan hartanya menjadi rampasan. Kekalahan itu adalah merupakan azab bagi mereka dan itulah balasan atas kekafiran mereka dan balasan atas permusuhan mereka terhadap kaum Muslimin.

Firman Allah swt:

قَاتِلُوْهُ مْ يُعَذِّبْهُمُ اللّٰهُ بِاَيْدِيْكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Dia akan menghinakan mereka dan menolongmu (dengan kemenangan) atas mereka. (at-Taubah/9: 14)

Isi Kandungan Kosakata

Ḥunain حُنَيْنٍ (at-Taubah/9: 25)

Ḥunain adalah nama tempat yaitu suatu lembah kurang lebih 70 km di sebelah timur kota Mekah, antara Mekah dan Ṭaif. Perang Hunain terjadi dua minggu setelah Fathu Mekah pada tahun 8 H., antara orang Islam di bawah pimpinan Nabi Muhammad saw melawan orang-orang musyrik yang berdomisili di sekitar kota Mekah yang terdiri dari Bani Hawazin, Bani Ṡaqif, Bani Naṣr dan Bani Jasyam. Mereka tidak rela dengan kemenangan kaum Muslimin dengan menguasai kota Mekah, maka mereka bersatu dibawah pimpinan Malik bin ‘Auf dari Bani Naṣr. Mereka bermaksud menyerang kota Mekah yang telah dikuasai orang Islam dengan menghimpun semua kekuatan yang ada. Tetapi jumlah mereka tidak terlalu besar, maka mereka mengumpulkan anak-anak dan istri mereka beserta harta benda mereka di balik sebuah bukit dekat lembah Hunain untuk menjadi pembangkit semangat mereka jika pertempuran terjadi. Tentara Islam yang ada di Mekah waktu itu tidak cukup banyak yaitu 10.000 orang ditambah lagi 2.000 orang Mekah yang sudah masuk Islam, di antaranya Abu Sufyan bin Harb. Untuk menjaga penduduk kota Mekah yang baru saja ditaklukkan, Nabi dengan tentaranya keluar kota Mekah bermaksud menghadang serangan mereka. Perjalanan tentara Islam ini telah diintai mereka, sehingga ketika menuruni lembah Hunain langsung dihujani panah orang-orang musyrik yang sudah mempersiapkan diri lebih dulu di bawah komando Malik bin ‘Auf. Saat itu juga tentara Islam panik dan kacau balau, lari pontang-panting menyelamatkan diri masing-masing. Pasukan Malik bin ‘Auf turun dari perbukitan, bergerak mengepung kaum Muslimin yang semakin kocar-kacir. Terkait peristiwa inilah Allah menjelaskan bahwa besarnya jumlah tentara Islam hampir tidak ada artinya bila telah dihinggapi rasa sombong. Maka Nabi segera mengkonsolidasi dan mengerahkan tentaranya ke suatu tempat untuk bertahan menghadapi serangan musuh yang mendadak secara tiba-tiba itu. Tentunya sambil berdo’a mohon bantuan dan pertolongan Allah menghadapi serangan yang tidak terduga sama sekali. Dalam perang ini, awalnya umat Islam terdesak dan hampir kalah, tetapi dengan ketenangan Rasul dalam memberikan komando dan ketaatan orang-orang Islam, serta bantuan tentara yang tidak kelihatan dari Allah, akhirnya umat Islam dapat memenangkan Perang Hunain tersebut seperti dalam Perang Badar pada tahun 2 H.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto